Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Jumat, 17 Mei 2013

Yusril: ‘Kasih Orang Fundamentalis Kekuasaan Maka Dia Akan Jadi Moderat’


FAKTA bahwa banyak orang menjadi berubah setelah menduduki kekuasaan adalah sesuatu yang jamak terjadi. Justru aneh dan unik jika seseorang setelah berkuasa bisa tetap dengan cara dan gaya seperti sebelum dia berkuasa. Lebih menariknya lagi, orang-orang yang dulu dianggap sebagai fundamentalis, radikal ataupun ekstrimis, bisa berubah 180 derajat setelah menduduki kekuasaan.
Bagi Prof.DR.Yusril Ihza Mahendra, SH, hal tersebut tidaklah sesuatu yang mengejutkan, karena menurutnya seseorang itu tergantung di mana posisi tempat dia berada. “Posisi seseorang akan melahirkan corak pemikiran politik yang berbeda,” ujar Yusril, Ahad Sore kemarin (15/5/2013) sewaktu menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Partai Politik Islam: Solusi Atau Masalah” yang digelar oleh Forum Studi Islam (FSI) FISIP UI.
Dalam penjelasannya, Yusril membandingkan Jamaat Islami Pakistan pimpinan Syaid Abul A’la Al-Maududi – yang oleh banyak pihak dianggap sebagai sosok yang fundamentalis – dengan Muhammad Natsir yang dianggap lebih moderat dan akomodatif dalam bersikap serta melakukan pergerakan. Hal itu tidak lain menurut Yusril disebabkan adanya posisi yang berbeda. Sejak awal Maududi dan jamaahnya tidak pernah terlibat dalam politik kekuasaan sehingga beliau bisa sangat ‘fundamentalis, berbeda dengan Natsir dengan Masyumi-nya yang sudah terlibat dalam kegiatan politik kekuasaan sejak dari mulai beraktifitas dalam politik praktis.
“Orang-orang Masyumi itu sejak awal sudah terlibat dalam politik, mereka berdebat nyata dan sengit di dalam parlemen dengan kubu komunis, sosialis dan sebagainya, berbeda dengan Maududi yang secara pribadi lebih banyak menulis risalah-risalah teoritis ‘keras’ dalam memberikan pemahaman politik kepada umat,” papar Yusril.
Menyimpulkan hal tersebut, Yusril berpendapat bahwa semakin jauh orang dari kekuasaan maka dia akan menjadi fundamentalis begitu juga sebaliknya, semakin dekat orang dengan kekuasaan maka akan menjadi moderat. Pada poin ini, Yusril mencontohkan Anwar Ibrahim – mantan wakil perdana menteri Malaysia – yang dahulu aktif di ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia).
Anwar dulu menurut Yusril sangat fundamentalis, sebelum dia berkuasa dia sangat anti dengan sekolah-sekolah Cina yang ada di Malaysia dan dia sangat anti perjudian serta mengusulkan agar Genting Highland (kawasan Judi legal di Malaysia) untuk ditutup. Namun apa yang terjadi setelah beliau menduduki posisi menteri pendidikan? Sekolah-sekolah Cina tidak dia tutup dengan alasan bisa merusak stabilitas BN (Barisan Nasional) yang di dalamnya ada partai Cina. Begitu juga ketika Anwar menjabat sebagai menteri keuangan. Anwar tidak berani menutup Genting Highland dengan alasan kalau lokalisasi judi itu ditutup maka kerajaan tidak mendapat pajak, jelas Yusril.
“Orang fundamentalis ekstrimis kasih dia kekuasaan maka dia akan jadi moderat, sebaliknya orang yang moderat dalam kekuasaan singkirkan dia dari kekuasaan dia akan jadi fundamentalis.” tandas Yusril.(fq/islampos)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar