Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Senin, 13 Februari 2012

Jalan Menuju Kehancuran

Sewaktu Menteri Perdagangannya  Mari Elka Pangestu, ia  membuat kebijakan yang membuka  kran import lebar-lebar. Indonesia dibanjiri barang-barang import terutama dari Cina. Semua industri lokal mati.
Banyak kalangan pengusaha menengah yang bangkrut dan gulung tikar. Produk barang Cina sangat murah. Barang buatan dalam negeri tidak lagi dapat bersaing dengan barang import.
Bukan hanya barang-barang manufactur yang gulung tikar, tetapi yang lebih terpukul para petani Indonesia. Mari Elka Pangestu, yang pernah menjadi Direktur CSIS, di zaman Soeharto - CSIS menjadi "dapur pemikir" (think-than) Orde Baru, dipimpin oleh Mayor Jenderal Ali Moertopo, menghancurkan dan melumatkan para petani Indonesia. Tanpa belas kasihan.
Akibat kebijakan Mari Elka Pangestu itu, hasil pertanian dan buah-buhan di Indonesia, habis tak dapat lagi bersaing menghadapi serbuan produk pertanian dan buah-buahan dari luar negeri.
Bayangkan petani kentang di Dieng satu kali panen, mereka harus rugi Rp 567 miliar. Luar biasa. Benar-benar hancur petani di Dieng. Ini akibat dari kebijakan dibukanya kran import pemerintah produk pertanian dan buah-buahan.
Para petani di Dieng tak sanggup lagi hidup dengan kentang mereka. Selama ini kentang mereka dijual dengan harga Rp 8.000 rupiah/'perkilogram. Sedangkan kentang import yang masuk ke Indonesia harganya hanya Rp2.000 - 2.500 rupiah. Akibatnya kentang dari petani Dieng tidak laku. Menumpuk menjadi busuk.
Mari Elka Pangestu, bukan hanya membuat petani Dieng menderita, tetapi para pengusaha dibidang kerajinan yang bahan bakunya dari rotan, ikut mati. Berapa banyak pengrajin rotan, seperti di Cirebon, Kuningan, Demak, dan Jepara serta daerah lainnya, yang bangkrut. Mengapa?
Karena Mari Pangestu, membuat kebijakan yang mengizinkan eksport rotan mentah. Sehingga, pengrajin mebel dan kursi yang terbuat dari rotan, kekurangan bahan baku rotan. Jenis rotan yang baik, semuanya di eksport ke luar negeri. Para pengrajin rotan bangkrut. Kekurangan bahan baku.
Ketika Mari Pangestu digantikan Gita Wirawan yang menjadi menteri perdagangan, kemudian melarang rotan mentah dieksport. Akibatnya, rotan menumpuk dan busuk. Sehingga, para pengusaha rotan, banyak yang bangkrut. Sekarang para pengrajin rotan dan pengusaha rotan, keduanya bangkrut.
Ini baru satu sektor perdagangan yang sudah mempunyai dampak yang sangat luas bagi kehidupan rakyat. Terutama kalangan menengah kebawah. Termasuk petani.
Jepang negara yang sudah sangat maju, tetap melindungi (memproteksi) petaninya. Jepang mengenakan beaya masuk yang tinggi terhadap produk pertanian asing. Bahkan, Jepang melarang masuk produk-produk pertanian asing. Pemerintah Jepang membeli beras rakyat, jika terjadi over produksi. Jepang walaupun ikut menandantangani perjanjian WTO (Perdagangan Bebas), tetap melindungi para petani, dan produk dalam negerinya.
Bulan Mei nanti, pemerintah akan mengalihkan pengguna BBM, yang selama ini menggunakan premium harus menggunakan pretamax. Ini artinya pemerintah akan menaikkan harga BBM dengan cara lain. Pemerintah akan memangkas habis subsidi BBM yang besarnya Rp 170 triliun.
Dapat diprediksi dampak ikutan dari kebijakan kenaikan BBM itu. Pasti akan terjadi multi efek, terutama terhadap harga-harga barang dan kebutuhan pokok. Lalu, bagaimana nasib rakyat menengah dan kecil, sehari-hari? Kenaikan BBM 10-15 persen, pasti akan diikuti dengan kenaikan harga barang-barang dan kebutuhan pokok rakyat yang lebih dari 20 persen. Sementara itu, tingkat penghasilan tidak berubah.
Ada rencana pemerintah akan menaikkan gaji pegawai negeri sipil dan militer. Rata-rata 10 persen. Berapa biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dengan kenaikan gaji pegawai negeri itu? RAPBN tahun 2012 ini, sudah 80 persen, yang digunakan untuk rutin (menggaji pegawai), sisanya hanya 20 persen yang digunakan pembangunan. RAPBN Indonsia Rp 1700 triliun, dan 80 persen digunakan menggaji pegawai negeri.
Kenaikan BBM dan gaji pegawai negeri sipil dan militer yang akan segera direalisasikan oleh pemerintah itu, pasti akan mempunyai dampak meningkatnya inflasi. Hal ini akan semakin menambah suramnya kehidupan rakyat dan bangsa ini. Pemerintah tidak memiliki cara-cara selain, mengurangi subsidi  BBM, dan meningkatkan pendapat para pegawai dengan meningkatkan gaji mereka.
Dibagian lain.  Di sektor jasa angkutan kereta api. PT KAI rencananya akan menghapus kereta KRL ekonomi, yang biasanya hanya dengan harga karcis Rp 1.500 rupiah. Itupun banyak yang tidak mampu membayar, dan mereka naik diatas atap kereta. Tanpa mempedulikan bahaya kecelakaan. Seluruh jenis KRL ekonomi rencananya dihapus, dan digantikan dengan Komuter, yang tarifnya Rp 7.000 rupiah.
Selama ini banyak pegawai yang rata-rata gajinya sebulan Rp 2 juta rupiah memilih KRL ekonomi, dan berdesak-desakan, terkadang sampai terasa sulit bernafas di dalam kereta. Mereka yang miskin atau gajinya pas-pasan memilih menggunakan KRL ekonomi, tetapi PT KAI rencananya akan menghapus. Sehingga, tidak lagi menyisakan bagi kalangan miskin, yang ingin pergi ke pusat kota Jakarta.
Sementara itu, negara semakin ringkih digerogoti korupsi yang dilakukan para birokrat dan pejabat negara. Sejak era reformasi ini, perbuatan korupsi tidak menyusut, tetapi grafiknya terus meningkat dengan drastis.
Indek korupsi di Indonesia secara internasional tidak berubah, dan justru meningkat. Ini berdasarkan penilaian dari transparansi internasional. Dibagian lain, indek kualitas hidup manusia, bertambah menurun. Sedih.
Rakyat terus menuntut keadilan dan  hak-hak mereka. Mereka ingin mempertahankan hak-hak mereka, terutama yang menyangkut tanah wulayat. Sehingga, di daerah-daerah terjadi konflik, dan kerusuhan. Tetapi, pemerintah mensikapi dengan cara-cara repressif, menggunakan cara kekerasan. Berapa rakyat yang sudah mati? Akibat ingin mempertahankan tanah milik mereka.
Hukum ibarat pisau, tajam ke bawah dan tumpul keatas. Hukum hanya berlaku bagi rakyat kecil. Kisah di Palu, di mana AAL yang dituduh mencuri sandal seorang anggota polisi, harus dihukum. Sementara itu para koruptor hidup dengan sangat manja dan nikmat. Mereka di vonis ringan. Mereka masih mendapat remisi. Mereka para koruptor benar-benar hidup di surga Indonesia. Karena Indonesia sudah terjerat dalam jebakan korupsi yang sistemik. Banyak pula koruptor yang di vonis bebas.
Rakyat tidak lagi memiliki tempat mengadu dan melindungi mereka. Tidak negara, tidak pemerintah, dan tidak juga wakil rakyat.
Ketika terjadi kekerasan di Timika, Mesuji, dan Sape, rakyat yang dizalimi polisi, tidak ada satupun yang berbicara dan membela rakyat, terutama mereka yang menjadi wakil rakyat. Para anggota DPR tidak ada yang dengan sungguh-sungguh membela rakyat. Memang DPR sudah menjadi alat polisi. Mereka bukan wakil rakyat.
Di tengah-tengah kondisi rakyat dan bangsa yang semakin terpuruk, para pemimpin partai politik, tidak lagi mereka memperhatikan nasib rakyat. Tetapi, mereka sudah benar-benar dirasuki oleh "iblis" kekuasaan.
Karena itu, walaupun pemilihan presiden baru akan berlangsung tahun 2014, sekarang para pemimpin partai sudah sibuk, dan kebelet dengan jabatan presiden.
Para pemimpin partai sibuk dengan berbagai pernyataan mereka tentang siapa bakal  dicalonkan menjadi calon presiden. Suara para pemimpin partai politik sangat nyaring tentang calon presiden. Mereka tidak lagi memikirkan nasib rakyat dan kondisi rakyat, yang terus menerus ditimpa kesulitan hidup. Termasuk akhir-akhir ini sering terjadinya bencana alam yang menimpa mereka.
Para pemimpin partai politik berlomba mengeluarkan pernyataan tentang calon-calon yang bakal mereka usung. Padahal, kalau dilihat dari tokoh-tokoh yang muncul, tidak  nampak tokoh-tokoh yang memillki kualitas.
Mereka tokoh-tokoh lama yang sudah bangkrut secara moral dan politik. Tetapi, masih berani maju dan mencalonkan diri, di tahun 2014. Termasuk dari kalangan partai-partai Islam.
Mereka para pengejar kekuasaan sampai ke ujung-ujung, tanpa lagi memperdulikan kondisi dan situasi yang dihadapi bangsa Indonesia.
Mereka yang muncul di permukaan yang bakal maju menjadi calon presiden, adalah para "the old man", dan "the old fashion", yang tidak mungkin dapat menjadi bagian solusi masa depan bangsa ini.
Mereka hanyalah para pemburu kekuasaan, tanpa hati nurani, tanpa moral, tanpa keahlian, tanpa komitmen, dan tanpa tujuan.
Mereka ibarat lokomotif yang sudah rusak mesinnya, dan hanya akan membawa kereta Indonesia ke jalan kehancuran. Wallahu'alam.

Tauhid Sumber Kebahagiaan


Sebagai orang yang mengaku beriman, yakinlah, dengan bertauhid seseorang bisa merubah keadaannya menjadi baik, niscaya ia akan mampu merubah seseorang menjadi orang yang penuh cinta kepada Allah Ta’alaa, penuh takut, dan penuh harap kepada Allah Ta’alaa. Rasa cinta kepada AllahTa’alaa, menuai umpan balik, yaitu AllahTa’alaa menjadi cinta kepada orang tersebut, sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim as, yang bertauhid kemudian cinta kepada AllahTa’alaa dan  Allah Ta’alaa membalas cintanya itu. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada  orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS. An-Nisa’ (4) : 125). Selain Nabi Ibrahim as, banyak lagi orang-orang yang karena bertauhid mendapatkan cinta Allah Ta’alaa, seperti diantaranya nabi Sulaiman as.
Kemudian rasa takut kepada Allah Ta’alaa akan menumbuhkan kebiasaan beristighfar, sedangkan AllahTa’alaa menjanjikan kepada hamba-Nya, ” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal (8) : 33).    Adapun orang-orang yang tidak mau beristighfar adalah mereka-mereka yang sombong, angkuh, dan memiliki sifat tercela lainnya, seperti kaum Tsamud, kaum ‘Ad, dan koruptor-koruptor  di zaman sekarang.
Rasa harap kepada Allah Ta’alaa, akan memberikan kekuatan kepada seseorang bahwa karakter kehidupan adalah sebagai cobaan, karena    orang yang bertauhid memahami yang demikian,maka ia bisa menumbuhkan rasa harap yang tinggi kepada Allah Ta’alaa. Tumbuh rasa sabar dan ulet dalam hidup dan kehidupan. Tidak mudah putus asa, dan selalu bangkit dari keterpurukan maupun cobaan. Adapun contoh orang-orang semacam ini adalah nabi Muhammad saw, Para Sahabat, dan Para Pejuang  Kemerdekaan RI.
Dari apa yang telah dipaparkan di atas maka semakin jelaslah, bahwa tauhid akan memberi dampak positif dalam kehidupan umat manusia, sebagai amalan hati, karena hati adalah salah satu bagian yang selalu dilihat dan diperhatikan AllahU. Maka, jika dalam hati itu tertanam pohon tauhid, AllahU akan selalu menjaga dan melindungi, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kepada jasad kalian dan pada wajah kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)
Kemudian tauhid dalam kaitannya dengan amalan lisan, dimana lisan selalu basah dengan dzikir kepada AllahU, maka yang bersangkutan akan selalu diingat  Allah U, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmendekat kepadanya. “Dan barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal niscaya Aku akan dekat kepadanya satu hasta, dan barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta niscaya Aku akan dekat kepadanya satu depa, dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan niscaya Aku akan mendatanginya dengan berlari (HR. Muslim).
Tauhid memiliki pengaruh positif yang begitu banyak bagi siapa saja yang menanam di dalam hatinya. Diantara sekian banyak dampak positif itu adalah sebagai pembersih jiwa dan raga, dan inilah yang membuat Malaikat senang dan selalu ingin berdekatan dengannya.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat (41) : 30)
Tauhid juga menanamkan hubungan baik antara sesama manusia dengan harmonis sebagaimana hadits dari Abu Hurairah t, ia berkata: Rasulullahr bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat) hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat) hendaknya memulyakan tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat) hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Muttafaq ‘Alaihi)
Tauhid menanamkan optimisme untuk menggapai masa depan yang gemilang, “Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Utelah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) AllahU tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan. (Lukman (31) : 20)
Kemudian dampak positif tauhid lainnya adalah menanamkan rasa harap yang tinggi terhadap syafa’at Rasulullah r di Padang Masyhar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah t, berkata Rasulullah r ketika ditanya, “Siapakah manusia yang paling bahagia menerima syafa’atmu pada hari Kiamat? Beliau menjawab: Manusia yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah yang berkata tiada Ilah (Tuhan) selain Allah, murni dari hati dan jiwanya.” (HR. Bukhari)
Tauhid juga menanamkan rasa harap yang besar terhadap kehidupan surga yang indah dan abadi, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh kenikmatan, Kekal mereka di dalamnya; sebagai janji AllahU yang benar. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Lukman (31) : 8 – 9).
Dan tentunya masih banyak lagi dampak positif dari bertauhid yang tidak mungkin ditulis secara keseluruhan. Tapi paling tidak dengan pemaparan di atas dapatlah mewakili sebagian dari dampak positif yang sangat begitu penting bagi manusia, karena tanpa tauhid itu niscaya manusia akan terpuruk dalam hidup dan kehidupannya di dunia maupun di akherat.
Sejarah mencatat umat manusia berulang kali mengalami keterpurukan, baik pribadi maupun dalam berbangsa. Keterpurukan itu AllahU berikan sebagai bentuk peringatan atau bisa jadi azab, supaya suku atau bangsa tersebut kembali kepada fithrahnya. Namun, apabila peringatan itu diabaikan, maka kemurkaan AllahU secara total akan dilimpahkan kepada suku atau bangsa tersebut secara massif. Hal tersebut pernah dialami oleh umat nabi Nuh u, nabi Shaleh u, nabi Hud u, dan nabi Luth u.
Semua kenyataan ini merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia dari dahulu hingga sekarang dan akan terus berlangsung sampai dunia ini Kiamat. Untuk itu, sunnatullah ini secara global terbagi menjadi dua;
Pertama, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaanberiman,maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl (16) : 97)
Kedua, “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnyabaginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.(Thaha (2) : 124)
Aquulu qauli hadzaa wa astaghfirullohal azhiim innahu huwal ghofuururrohiim.
Alhamdulillah, alhamdulillahi robbil ‘aalamin arrohmaanirrohiim, maaliki yaumiddin. Asyhadu allaailaaha ilalloh wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuuluh, allohumma sholli ‘alaa muhammad wa alaa ali muhammad kamaa shollaita ‘alaa ibrohiim …… innaka hamidun majid. Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh. Uusikum wanafsi bitaqwalloh faqod faadzal muttaquun. Ittaqulloh, ittaqulloh, ittaqulloha haqqo tuqootihi walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Inna akromakum indallohi atqookum.
Jama’ah Jum’at  yang berbahagia.
Untuk mengatasi persoalan itu dimana seseorang akan mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, ada beberapa solusi yang diantranya;
Pertama, menegakan kalimat tauhid secara ikhlas dalam lubuk hati yang paling dalam.
Kedua, memperbanyak istighfar seperti yang disarankan oleh nabi Nuh u pada kaumnya dan seperti yang dilakukan nabi Yunus dalam perut ikan hiu.
“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu ia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela, maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai  hari berbangkit.   (QS. Ash-Shaffat (37) : 139 – 144).
Ketiga, taqarrub kepada Allah  dengan berbagai amal shaleh, termasuk sedekah.
Keempat,saling mengingatkan. Kelima, saling menolong dalam kebaikan, “ … dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran ….  (al-Maidah (5) : 2).
( H. Abdul Wahid Alwi MA)

Mengapa Menolak Habib Riziq?


Kemarin ribuan orang Dayak mengepung pesawat Sriwijaya Air yang mendarat di bandara Cilik Riwut, Palangkaraya. Mereka mengira pesawat Sriwijaya itu membawa rombongan FPI, yang dipimpin Habib Riziq.
Dengan kondisi keamanan yang sangat berbahaya, maka fihak Sriwijaya membatalkan empat penumpang dari FPI yang hendak mendarat di Palangkararaya itu.
Sementara itu, sebelum mendarat telah dibembuskan citra negatif terhadap FPI, sebagai organiasi yang selalu melakukan kekerasan.
Padahal, yang disebut dengan "kekerasan" oleh FPI itu bisa dihitung dengan jari. Dibandigkan dengan kader-kader partai politik, termasuk PDI, masih banyak mereka yang melakukan kekerasan.
Di pilkada di Tuban, amuk kader PDI, beberapa waktu lalu, meluluhkan lantakkan pendopo Kabupaten Tuban dibakar, tetapi tidak ada yang menyebut PDI sebagai biang tindak kekerasan.
Gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang, adalah kader PDI, beragama Kristen, dan sangat fanatik. Telah membangun gereja terbesar di Kalimantan. Toleransi yang selama ini didengungkan di pusat, hanya slogan kosong belaka.
Kalau yang menjadi penguasa Kristen, sudah pasti tidak ada lagi yang disebut dengan toleransi. Deklarasi tokoh-tokoh agama tentang toleransi itu, hanyalah "bohong-bohongan" belaka. Karena tidak ada aplikasinya di lapangan.
Orang-orang Kristen kalau berkuasa tidak akan pernah menepati komitmennya dengan toleransi. Mereka menganggap orang-orang non-Kristen sebagai domba-domba yang sesat, dan harus diselamatkan (dikristenkan).
Tetapi,  bukan hanya itu, orang-orang Kristen dan Yahudi itu, selamanya adalah golongan yang paling keras memusuhi dan memerangi terhadap orang-orang Islam (mukmin), sepanjang sejarahnya. Tidak pernah sedetikpun mereka tidak memerangani dan memusuhi orang-orang Islam. Di mana saja mereka berada pasti berbuat makar terhadap orang-orang Islam.
Karena itu, orang-orang Islam yang mau diajak bersama melakukan kolaborasi dengan  agenda toleransi itu, hanyalah orang-orang Islam yang bodoh dan bebal, serta aqidah agamanya sudah rusak. Dirusak dan dijajah oleh pemikiran orang Kristen dan Yahudi. Sejatinya Kristen dan Yahudi telah tertanam sangat dalam di hanti mereka, dan  selalu berusaha menghancurkan orang-orang Islam.
Di Palangkara, orang-orang Dayak Kristen melakukan pembantaian terhadap ribuan orang Madura. Laki-laki, perempuan, anak, dan orang tua, tanpa belas kasihan dibantai. Hanya karena beragama Islam. Secara biadab. Tetapi, tidak pernah dikutuk tindakan yang dilakukan oleh orang-orang Dayak itu.
Di Singkawang dan Sanggoledo, Kalimantan Barat,  orang-orang Madura juga menjadi korban kekejaman, yang sangat terkutuk, ratusan orang Madura tewas, dan ribuan lainnya meninggalkan rumah-rumah mereka, dan dihancurkan oleh orang-orang Dayak.
Di Kalimantan Barat, sejak gubernurnya orang Kristen dan keturunan Cina, maka umat Islam terus dikikis dengan berbagai kebijakan. Padahal, di Kalimantan Barat, jumlah penduduknya yang beragama Islam mencapai 75 persen. Tetapi, sekarang mereka dihambat dalam melakukan aktivitas keislaman mereka. Umat Islam di Kalimantan Barat, di "bonsai" dengan sistematis, semantara kalalu acara kegiatan Kristen dan Konghuchu, seperti acara Gong Chi Pachai, saat Imlek, sangat luar biasa. Seperti perayaan barongsai.
Di Ambon, Umat Islam dihancurkan saat Idul Fitri, rumah dan masjid-masjid mereka dibakar, termasuk di Poso. Umat Islam selalu menjadi korban kekerasan mereka. Padahal, mereka masih minoritas jumlahnya. Bagiamana kalau golongan Kristen ini sudah jumlahnya mayoritas? Mungkin umat Islam dimusnahkan.
Sekarang para Pendeta dan Romo terus menyanyikan lagu palsu tentang : "Kasih dan toleransi". Karena mereka masih minoritas. Saat mereka sudah jumlahnya banyak, dan memiliki kekuasaan, maka tidak segan-segan mereka akan memusnahkan orang-orang Islam dengan menggunakan kekuasaan yang mereka miliki.
Betapa bodohnya orang-orang Islam yang mau tertipu dengan nyanyian pada Pendeta dan Romo, tentang "Kasih dan toleransi" itu. Karena sepanjang sejarahnya tidak pernah akan ada yang namanya "kasih dan toleransi" dalam agama Kristen itu. Mereka memang membuat manuver-manuver dalam rangka mengandangi orang-orang Islam dan para tokohnya, melalui jeratan "toleransi", di saat mereka masih minoritas.
Semuanya sudah dibuktikan dengan empirik. Siapa yang membantai Muslim Bosnia di Srebenica? Serbia Kristen. Siapa yang membantai umat Islam di Afghanistan? Penguasa Amerika yang Kristen. Siapa yang membantai umat Islam di Irak? Penguasa Amerika yang Kristen. Siapa yang membantai umat Islam di Palestina? Komplotan Zionis-Israel dengan Amerika Serikat. Komplotan Zionis-Kristen.
Siapa yang mengkampanyekan tentang ancaman terorisme secara global? Para penguasa Kristen Barat. Kemudian ribuan orang Islam yang dituduh teroris dijebloskan ke dalam penjara, dan sebagian diantara mereka telah dibunuh.
Siapa yang mengusir para imigran Muslim dari Eropa? Siapa yang membuat penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Shallalhu Alaihi Wasssalam? Para penguasa Kristen Barat. Siapa yang melakukan pembantaian terhadap Muslim di Philipana? Penguasa Kristen Philipine.
Inilah fakta-fakta sejarah yang sangat panjang dalam kehidupan. Maka perlu kaum Muslimin memahami sejarah ini. Tidak mungkin mereka dapat bertoleransi. Karena antara Kristen dengan Islam memiliki perbedaan yang sangat fudamental. Yaitu terkait dengan aqidah. Mereka orang kafir musyrik, Yahudi dan Nasrani, selalu berorientasi kepada kabhatilan. Sementara orang-orang mukmin, selalu berorientasi kepada al-haq. Tidak akan pernah bertemu selamanya.
Wajar para penguasa Kristen itu memusuhi terhadap orang-orang Islam, seperti yang dilakukan oleh Teras Narang yang menjadi penguasa di Kalimantan Tengah. Karena mereka itu, memiliki kebencian terhadap orang-orang Mukmin.
Hanyalah orang-orang Islam dan Mukmin yang bodoh, mereka masih percaya bahwa Yahudi dan Nasrani, layak diajak menjadi kawan dan sahabat. Sehingga, ada orang-orang Islam yang masih mau diajak menyanyikan lagu tentang : "toleransi". Padahal, nyanyian tentang "toleransi" itu, tak lain hanyalah nyanyian yang menipu dan palsu. Wallahu'alam.

Rabu, 08 Februari 2012

Sejak Orde Lama Hingga Kini, Pancasila Tak Pernah Diimplementasikan



JAKARTA (Voa-Islam) – Sehubungan dengan wacana DPR dan Pemerintah yang hendak kembali menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi kemasyarakatan, Forum Silaturahim Masyarakat Peduli Syari’ah kepada Voa-Islam memberikan pernyataan sikapnya.
Menurut Ketua Presidium Forum Silaturahim Masyarakat Peduli Syari’ah, H. Bambang Sety, M.Sc, upaya penyeragaman asas organisasi kemasyarakatan dengan Pancasila berarti mengulangi kesalahan masa lalu yang sudah dikoreksi pada awal reformasi melalui Ketetapan MPR RI No. XVIII/MPR/1998.
Dikatakan Bambang, memaksakan untuk mengganti asas Islam – yang merupakan aqidah asasi umat Islam – terhadap organisasi yang didirikan oleh kaum muslimin dengan asas lain, berarti mengebiri ajaran aqidah Islam dan bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Pasal 29 ayat (1) UUD 1945. Oleh karena itu  wajib ditolak demi menyelamatkan aqidah umat Islam.
Menurut Bambang yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Islah di Bandung generasi awal ini, Islam (Al Qur’an dan As-Sunnah) merupakan sumber dari segala sumber hukum. Dengan demikian, tidak mungkin Islam disamakan atau dibandingkan dengan ajaran atau isme-isme lain, termasuk dengan Pancasila.
Pancasila sebagai dasar negara terbukti telah gagal mewujudkan cita-citanya. Hingga saat ini, Pancasila belum pernah diimplementasikan dengan sungguh-sungguh oleh rezim yang berkuasa, mulai dari Rezim Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi.
Pada masa Rezim Orde Lama (masa Presiden Soekarno, 1959-1966), justru mengimplementasikan Pancasila sebagai doktrin ideologus, yang berdampak pada menguatnya golongan Anti Tuhan (atheis) dan berujung pada pemberontakan berdarah G30S/PKI.
Adapun pada masa Orde Baru (1967-1998) mengimplementasikan Pancasila sebagai mitos Asas Tunggal, dengan memaksakan pancasila berdasarkan penafsiran sepihak, yang menelan empat ratusan jiwa melayang (Tragedi Tanjung Priok Berdarah tahun 1984) dan berujung pada jatuhnya Presiden Soeharto yang didahului dengan krisis moneter dan tekanan IMF.
Sedangkan Rezim sekarang juga belum sungguh-sungguh mengimplementasikan nilai-nilai substansial yang termaktub dalam Pembukaan UUD 45. Desastian

KH. Muhammad Al Khaththath: Jangan Pandang Ormas Islam sebagai Musuh



JAKARTA (Voa-Islam) – Kehadiran ormas yang ada hendaknya tidak menjadi komparador asing. Mengingat, orientasi LSM komparador asing bukan untuk kemajuan bangsa, melainkan hendak  mengacaukan stabilitas keamanan di Indonesia. Karenanya, komparador asing itu harus dilarang.
Demikian pandangan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH. Muhammad Al Khaththath dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Pansus RUU Ormas beberapa waktu lalu di Gedung DPR.
"Apa perlu ada ormas asing, karena kerjaannya bukan untuk kemajuan bangsa Indonesia, tapi hanya grecokin saja. Setiap ormas harus bekerja untuk kemajuan bangsa dan rakyat Indonesia, bukan untuk merongrong kedaulatan NKRI,” ujar Al Khaththath.
Dalam RDP tersebut, DPR mengundang sejumlah ormas, seperti Forum Umat Islam (KH. Muhammad Al Khaththath),GARIS, Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Pangestu, Subud, dan Majelis Mujahidin Indonesia. Semua ormas memberi pendapatnya,kecuali MMI yang tidak hadir siang itu.
Seperti diketahui, FUI  yang merupakan wadah berhimpun dari berbagai ormas Islam yang ada, termasuk JAT, FPI, MMI, Garis dan DDII. Tentang pertanyaan, apakah LSM, Paguyuban & Organsisasi Sosial merupakan lembaga yang dapat dikategorikan sebagai ormas? Sekjen FUI itu tidak mempersoalkan istilah ormas dengan istilah paguyuban, perkumpulan, perhimpunan, atau ormas itu sendiri. Ini menunjukkan adanya keberagaman di Indonesia, terpenting keberadaan ormas itu harus berorientasi unutk kemajuan bangsa dan rakyat Indonesia.
Ormas Bukan Musuh Negara
Al Khaththath mengatakan, relasi atau hubungan ormas dengan pemerintah, memang seharusnya bersinergis. Keberadaan ormas seyogianya dipandang sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia. Jangan diposisikan sebagai lawan atau musuh. “Saya kira, rakyat atau ormas tak perlu diawasi. Sebaiknya, bukan pengawasan, tapi pembinaan.”
Sangat disayangkan, jika aparat intel malah memetakan ormas tertentu dengan istilah radikal kanan ataupun radikal kiri, bahkan sampai mencap sebagai musuh negara.  Tapi giliran NGO atau LSM  komparador asing malah dibiarkan. Jelas ini keliru.
Al Khaththath setuju jika pemerintah menindak tegas terhadap ormas yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Kalau ini baru bisa dipandang sebagai musuh. Jadi, siapa yang berhubungan dengan orang asing, yang tujuannya ingin menghabisi harta kekayan kita, atau melemahkan kekuatan unsur negara kita, seperti di Freeport, New Mont dan sebagainya, maka harus ditindak tegas. “Intel-intel sebaiknya menginteli kedubes-kedubes di negeri ini. Bukan menginteli FPI ataupun FUI,” tandasnya.
Tentang apakah setiap ormas wajib melakukan pendaftaran kepada pemerintah? Menurut Al Khaththath, sebaiknya mekanisme pendaftaran ormas disederhanakan saja, tak perlu birokrasi yang rumit. Soal pengawasan audit keuangan terhadap ormas, hendaknya tidak perlu diaudit, namun jika ada ormas  berbadan hukum, silahkan saja untuk diaudit. Begitu juga,  ormas, LSM atau NGO yang mendapatkan bantuan asing, memang seharusnya diaudit. Sudah saatnya ormas harus  mandiri, tak perlu bantuan asing.
“Perlu diketahui, dana yang diperoleh FUI untuk melakukan kegiatan berasal dari swadaya anggota ormas islam yang tergabung dalam wadah FUI. Dan kebanyakan penyumbangnya bersifat lillahita’ala, dan hanya menyebut dirinya dari hamba Allah,” tukas Al Khaththath.
Ihwal sanksi bagi ormas yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan per-undang-undangan, khususnya gangguan terhadap ketertiban umum, Ustadz Al Khaththath mengatakan, hendaknya dilakukan sesuai  mekanisme hukum yang ada. Siapa yang melanggar hukum harus dihukum. Tapi jika sudah melalui mekanisme hukum, tak perlu dihukum dua kali dengan sanksi pembubaran ormas. Sebab, nanti kalau ada polisi dan tentara melakukan tindakan kriminal,  bisa-bisa ada tuntutan yang sama agar institusi polisi dan TNI dibubarkan.
“Atau jika ada pendukung parpol yang merusak instansi pemerintah, maka bisa ada tuntutan partainya harus dibubarkan. Karena itu, lebih baik tidak ada pembubaran ormas, kecuali dibubarkan oleh anggota ormas itu sendiri, berdasarkan musyawarah dengan para anggotanya. Kalau ormas dibubarkan oleh pemerintah berdasarkan laporan masyarakat, nanti semua bisa melapor. Yang direpotkan pasti ya polisi dan pengadilan,” kata Al Khaththath.
Terkait RUU Ormas yang hendak menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal, FUI secara tegas menolak. Biarlah ormas-ormas yang ada memiliki keragaman asasnya, baik yang berasaskan Islam, Kristen, Hindu,  Budha dan sebagainya. Namun, kita tidak mentolerir, jika ada ormas yang berasaskan komunisme dan liberalisme. Tentu ini sangat bertentangan dengan Pancasila. “Kami umat Islam, tak ingin Rezim Orde Baru terlahir kembali. Trauma di masa lalu itu hendaknya tidak diulangi lagi.”
Dikatakan Al Khaththat, biarlah Pancasila menjadi asas negara kita, karena Pancasila tidak bertentangan dengan Islam atau sebaliknya. Justru kerap terjadi, pelaksanaan oleh negera telah bertentangan dengan Pancasila itu sendiri. Sebagai contoh, Kepprres tentang muniman beralkohol, jelas memperbolehkan untuk produksi, distribusi dan jual beli miras, padahal ini sangat bertentangan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu DPR harus menggagas UU anti miras. Desastian

Jihad Lebih Utama Daripada Haji Mabrur



By: Abdullah Al-Mustofa
Peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur, kandidat Master Studi Al-Qur’an di IIUM (International Islamic University Malaysia)


SEBUAH sinetron berdasarkan kisah nyata dari Mesir beberapa hari yang lalu ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta tanah air. Sinetron tersebut mengisahkan seorang ibu yang diajak putranya pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah. Betapa bahagianya si anak karena ibunya dapat mengunjungi Tanah Suci. Tapi kebahagiaannya itu berubah menjadi kesedihan tatkala ibunya berada di dalam kawasan Masjidil Haram tidak bisa melihat Ka’bah karena tidak bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan.
Dia tidak putus asa. Dia tiada putus memohon kepada Allah SWT agar Dia berkenan mengampuni dosa-dosa ibunya serta membuat ibunya bisa melihat Ka’bah. Namun Allah SWT belum berkenan mengabulkan doa-doanya hingga saatnya harus kembali ke tanah air mereka. Dia pun tidak putus asa untuk mengajak ibunya untuk pergi ke Tanah Suci hingga lima kali umrah dan satu kali haji meskipun ternyata ibunya tetap mengalami hal yang sama, ibunya selalu mengalami kebutaan ketika berada di kawasan Masjidil Haram.
Di laman web onislam.com berbahasa Inggris ada seorang yang telah tiga kali melaksanakan haji dan berencana akan melaksanakan haji tahun ini mengajukan pertanyaan apa yang sebaiknya dia lakukan antara memenuhi keinginan diri sendiri dengan melaksanakan haji lagi dan memenuhi kebutuhan umat dengan jalan membantu meringankan beban umat Islam yang dirundung kemalangan.
Setiap tahun selalu ada saja sejumlah artis atau selebriti Indonesia yang berkesempatan pergi ke tanah suci untuk berumrah atau berhaji.

Haji Sebagai Gaya Hidup

Di jaman yang penuh dengan kemudahan dan fasilitas ini menunaikan ibadah umrah dan haji telah menjadi gaya hidup sebagian kaum Muslimin dari sudut dunia manapun baik itu pejabat pemerintah, tokoh agama, kalangan selebritis, pengusaha maupun mereka yang berasal dari kalangan awam. Mereka dengan mudah dan ringan mengunjungi Baitullah (Rumah Allah) layaknya mengunjungi rumah kawan,  kenalan atau kerabat di luar desa atau di luar kota. Saking mudah dan ringannya hingga sebagian dari mereka mampu haji atau umrah setiap tahunnya. Bahkan juga tidak mengherankan ada yang mampu beberapa kali dalam setahun ulang-alik antara tanah air dan tanah suci.
Fenomena tersebut patut disyukuri. Hal ini secara kasat mata menunjukkan adanya peningkatan ghiroh keislaman dalam beramal di kalangan umat Islam. Namun fenomena ini juga patut menjadi keprihatinan dan bahan renungan kita bersama. Apakah patut menjadikan haji dan atau umroh sebagai gaya hidup sedangkan pada saat yang sama ada begitu banyak saudara-saudara seiman (dan jumlah mereka ini jauh melebihi mereka yang mampu menjadikan haji dan umrah sebagai gaya hidup) yang menjadi korban peperangan, bencana alam, bencana ekonomi dan bencana sosial?
Pribadi yang berakal sehat dan beriman tentu tidak bisa menerima hal ini dan menjawab tidak patut! 
“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap orang yang waras tentu mencintainya dirinya sendiri, untuk itu dia tidak pelit untuk mengerahkan daya, upaya, waktu dan dana untuk menjaga keberlangsungan, kesejahteraan dan keselamatan hidupnya. Salah satu tanda keimanan seorang Muslim adalah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Dengan demikian dia tidak akan pelit mengerahkan daya, upaya, waktu dan dana untuk menjaga keberlangsungan, kesejahteraan dan keselamatan hidup saudara-saudara seagamanya.

Jihad Sebagai Gaya Hidup

Lalu apa yang patut dan mesti dilakukan? Yang bisa ditawarkan adalah menjadikan jihad dalam arti yang sebenarnya -bukan yang salah dimengerti dan dalam pengertian yang salah- sebagai gaya hidup di kalangan umat Islam.
Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya “Fiqhul Jihad”  berpendapat  bahwa kata jihad mempunyai makna yang lebih luas daripada kata peperangan (al-qital), meskipun kata beliau, fiqih memahami kata jihad hanya berarti peperangan.
Beliau mengemukakan berbagai definisi jihad yang diberikan para ulama. Beliau lebih memilih jihad yang didefinisikan sebagai pengerahan usaha dan kemampuan di jalan Allah dengan nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan lain sebagainya. Menurut beliau definisi ini yang lebih tepat karena mencakup seluruh jenis jihad yang diterangkan al-Qur’an dan Sunnah.
Dengan mengutip pendapat Ibnu Taimiyah beliau memberikan isyarat bahwa jihad mencakup aktivitas hati berupa niat dan keteguhan, aktivitas lisan berupa dakwah dan penjelasan, aktivitas akal berupa pemikiran dan ide, serta aktivitas tubuh berupa perang dan lain sebagainya.
Beliau membagi jenis jihad menjadi empat:
1. Jihad Militer: Jihad Perlawanan dan Jihad Penyerangan
2. Jihad Spiritual
3. Jihad Dakwah
4. Jihad Sipil (al-Jihad al-Madani). Jihad sipil ini mencakup Jihad Ilmu, Jihad Sosial, Jihad Ekonomi, Jihad Pengajaran, Jihad Kesehatan, dan jihad lainnya.
Mengingat dan menimbang betapa kronisnya problematika umat Islam di manapun mereka berada saat ini seperti di Palestina, Somalia, Burma, Kashmir dan di tanah air sendiri sudah saatnya seluruh komponen umat Islam terutama para pemimpin dan ulama untuk mensosialisasikan gerakan jihad sebagai gaya hidup kaum Muslimin.

Jihad Sebagai Solusi Problematika Umat

Berdasarkan makna, definisi, konsep dan cakupan jihad sebagaimana yang dijelaskan secara gamblang dalam komprehensif oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya tersebut dapat penulis simpulkan jika jihad benar-benar dan sungguh-sungguh diterapkan oleh umat Islam akan mampu menyelesaikan problematika umat Islam kontemporer.
Dr. Wael Shihab, yang memperoleh gelar doktor dalam bidang Studi Islam dari Universitas Al-Azhar Mesir, mantan Ketua Unit Fatwa di IslamOnline.net versi Bahasa Inggris dalam laman web onislam.com memaparkan, tidak bisa diterima jika seorang Muslim berulang kali melakukan ibadah umrah dan haji yang merupakan ibadah sunnah tapi meninggalkan kewajibannya membantu saudara seagamanya untuk mempertahankan identitas dan keyakinan agama mereka dan melindungi kehidupan mereka. Mendukung dakwah, kesejahteraan masyarakat,  proyek-proyek keislaman seperti pusat Islam dan sekolah-sekolah yang mendidik Muslim dan non-Muslim untuk mengetahui Islam dan ajaran-ajarannya, dan mendidik generasi penerus umat Islam dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, jika seorang Muslim memberikan prioritas pada tugas ini akan mendapatkan pahala lebih banyak dari pada melakukan haji dan umrah berulang kali.

Keutamaan Jihad

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas menunjukkan berjihad di jalan Allah merupakan amal yang lebih utama dibandingkan dengan haji mabrur, apatah lagi haji yang tidak mabrur. Jika anda sudah berhaji dan atau umrah satu kali apalagi lebih dari satu kali, saat ini yang lebih tepat anda lakukan adalah berjihad. Allahu Akbar! Wallahu a’lam [voa-islam.com]

Menjaga Diri dari Bahaya Rancangan Penghancuran Islam


(Khutbah Jum’at )
Oleh Hartono Ahmad Jaiz
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, pada kesempatan yang insya Allah diberkahi Allah ini akan kami kemukakan tentang Menjaga Diri dari Bahaya Rancangan Penghancuran Islam.
Penghancuran Islam yang paling dahsyat adalah pemusyrikan, menjadikan Muslimin yang beraqidah Tauhid meng-esakan Allah, mejadi berkepercayaan syirik, menyekutukan Allah dengan lainnya.   
Mengenai masalah pemusyrikan, Majalah Fatawa menurunkan tulisan berjudul Trend Muslim Bergaya Musyrik dengan menyoroti tulisan di satu  situs. Dikemukakan, seorang berwajah Arab, pengasuh situs yang mendakwakan sebagai tempat duduk yang dibimbing Rasulullah, pernah menyatakan bahwa masalah syirik sudah selesai. Tidak perlu dirisaukan lagi. Karena Rasulullah sendiri, masih menurutnya, sudah tidak merisaukannya lagi. Jadi, orang sekarang yang merisaukan syirik dianggapnya bertentangan dengan beliau.
Kemudian tulisan itu ditanggapi oleh Majalah Fatawa, di antaranya ditulis sebagai berikut:
Apakah Umat Ini Aman dari Ancaman Syirik?
Sebagian orang mengira bahwa masalah syirik sudah usai, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Dikiranya hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dicatat oleh al-Bukhari ada yang merupakan jaminan bahwa umat Islam akan selamat bersih dari kesyirikan. Jaminan bagi generasi sahabat memang iya, tetapi bukan untuk generasi jauh setelah mereka. Kini, karena ketidaktahuan dan taklid ada yang terjerumus dalam syirik besar yang nyata. Apalagi syirik yang samar. Syirik ini susah dideteksi karena begitu halus, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلةِ السَّوْدَاءِ على صفاة سَوْدَاءِ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ
“Syirik yang menjangkiti umat ini lebih tersembunyi daripada seekor semut hitam yang merayap pada bebatuan hitam di tengah gelap malam.” (Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya IV/303, al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad hal. 242, dan tercantum dalam Majma’ al-Zawa-id X/ 223 & 224).
Dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata umat ini, umat Islam secara umum hingga menjelang kiamat kelak, sementara dalam hadits Bukhari digunakan kata kalian yang ditujukan pada sahabat. Masih banyak peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat akhir zaman terhadap bencana syirik. Bahkan beliau tegaskan umatnya kelak ada yang mengekor kaum musyrikin hingga berhala pun disembah.
Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى  تُعبَد الأَوْثَان
َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
لا تقوم الساعة حتى يرجع ناس من أمتي إلى أوثان كانوا يعبدونها من دون الله- عز وجل“.
“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga sekelompok kaum dari umatku kembali kepada berhala. Mereka menyembah berhala tersebut di samping Allah Subhanahu wa Ta’ala . (Riwayat Abu Dawud al-Thayalisi dari Musa bin Muthir, lemah. Ithaful Khirah wal Mahrah Bizawaid Juz 8 hal. 34).
Autsan dalam bentuk jamak (plural) dari watsan, artinya berhala. Watsan adalah segala sesuatu yang mempunyai bentuk badan yang biasanya dibuat dari unsur tanah, kayu, atau bebatuan seperti bentuk manusia. Benda ini dibentuk, dimuliakan, dan disembah. Kadang juga watsan mencakup sesuatu yang tidak berbentuk gambar/bentuk. Shanam adalah gambar tanpa bentuk badan.
Sesembahan ini, kalau zaman jahiliyah berbentuk patung-patung orang saleh, sekarang bisa diwujudkan dalam kuburan-kuburan atau petilasan-petilasan orang shaleh yang dianggap shaleh. Kini ada pembela kesyirikan menganggap melarang orang berdoa di kuburan merupakan bentuk kurang ajar kepada para wali, alias tidak mau menghormati orang yang layak dihormati, bahkan dicap sebagai pengikut iblis yang tidak mau menghormati Adam. Subhanallah!
Gaya-gaya perilaku kaum Musyrik kini memang banyak melanda kaum Muslimin. Di antaranya bersumpah dengan selain Allah, kasidah yang penuh dengan bait-bait syirik, mengubur orang saleh dalam masjid, menjadikan kuburan sebagai tempat perayaan dan ibadah, melakukan nadzar untuk para wali, menyembelih korban di kuburan para wali, thawaf mengitari kuburan yang dianggap wali, bahkan ada yang bersujud kepada kuburan kiai. Di Solo bahkan orang berjubel untuk membuntuti kerbau yang dijuluki Kyai Slamet. Hewan bule ini setiap bulan baru Muharram dilepas mengelilingi kraton Solo. Di antara yang hadir berebut mendapatkan kotoran hewan yang sering menjadi lambang kebodohan tersebut. Ya, kotorannya dijadikan rebutan. Diambil berkahnya, kata mereka. Mereka bukan hanya orang tua, tetapi juga anak-anak muda! Di belahan lain ada sekelompok orang yang tekah bersyahadat, mengantar sesajen ke gunung Lawu dan Merapi. Yang lain memberikan sedekah laut alias larung sesaji ke pantai laut Selatan. La haula wala quwwata illa billah.
Zaman memang sudah bergeser, berubah dari kondisi zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga seorang pakar hadits Imam Bukhari membuatkan sebuah bab dalam Shahih-nya ‘Bab Taghayuru al-Zaman hatta tu’badu al-Autsan—Berubahnya Zaman hingga Berhala Kembali Disembah Shahih Bukhari Juz VI hal. 2604.
Bahkan kelak dedengkot berhala kaum musyrikin Quraisy akan kembali diagungkan. Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, «
 لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى ».
“Malam dan siang tidak akan lenyap (terjadi kiamat) hingga Lata dan Uzza kembali disembah.” (Shahih Muslim : 6907, Sunan al-Tirmidzi no. 2228, dan Musnad Ahmad no. 8164, Mukadimah Masail Jahiliyah juz I hal. 16).)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam punya perhatian yang lebih terhadap ancaman kesyirikan, hingga pada hari meninggalnya beliau masih sempat mengingatkan umatnya agar tidak mengikuti perilaku Ahli Kitab yang berlebihan dalam memuji nabi dan orang saleh, sikap mereka menyeret kepada syirik besar. Akankah kita sebagai umatnya yang kini semakin lemah justru merasa aman dari syirik. Sungguh, muslim bergaya syirik kini sedang ngetrend. Semoga kita diselamatkan oleh Allah! (Dikutip dari Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11) lihat http://www.nahimunkar.com/trend-muslim-bergaya-musyrik/#more-276, Trend Muslim Bergaya Musyrik, March 20, 2009 10:39 pm admin Artikel
Lingkaran Penyesatan
Di samping rawan kemusyrikan, ada factor lain yang membahayakan bagi Ummat Islam. Orang kafir (pihak luar Islam) bekerjasama dengan orang-orang yang masih mengaku Islam namun menjauhkan Ummat Islam dari aqidah Islam di antaranya lewat apa yang mereka jajakan berupa:
  1. Liberalisasi Islam. Yaitu  upaya jahat yang menghembuskan pemahaman bahwa agama Islam itu relative sama benarnya dengan agama-agama lain.
  2. Kemudian mereka menjajakan pluralisme agama (semua agama sama menuju kepada keselamatan, hanya beda teknis, dan kita tidak boleh memandang agama lain memakai agama yang kita peluk). Padahal faham itu hakekatnya kemusyrikan baru. Hanya saja karena istilahnya bukan kemusyrikan,  tetapi pluralisme agama, maka Ummat Islam banyak yang tidak faham. Kalau disebut kemusyrikan, maka Ummat Islam baru faham, maka mereka hindari istilah ini, dan mereka pilih pluralisme agama, biar samar makna jahatnya.
  3. Juga terakhir menggunakan apa yang mereka sebut multikulturalisme, aneka kultur (budaya) dipandang sama dan sejajar, sedang agama (Islam) hanya dipandang sebagai sub kultur, lalu tidak boleh mengklaim bahwa kulturnya sendiri saja yang benar dan yang lain salah. Ketika Islam menyatakan hanya Islam yang benar, maka dianggap sebagai sumber konflik. Ini artinya mengubur agama Islam, tetapi seakan kedengarannya tidak berbahaya, padahal sangat berbahaya.
Itulah yang dilakukan oleh orang-orang di luar Islam bekerjasama dengan orang-orang liberal dan lainnya bahkan lewat pendidikan formal seperti perguruan-peruruan tinggi Islam yang sosok-sosoknya sebagian sudah kita kenali. Semua itu pada hakekatnya adalah musuh Islam.
Masih ditambah lagi dari kaum adat yang mengusung adat-adat Fir’aun dan lainnya ke dalam Islam, dicarikan dalih-dalih untuk melestarikan adat-adat yang mereka usung dan mereka masukkan ke dalam Islam. Ketika adat-adat batil itu mendapatkan sentuhan da’wah dan sedikit demi sedikit Ummat Islam semakin faham bahwa itu tidak sesuai dengan Islam, maka terjadi kekhawatiran dari para pengusungnya, jangan-jangan akan terkikis habis lahan mereka itu. Maka kemarahan mereka lebih tinggi dibanding misalnya Islam itu sendiri diusik orang. Makanya ketika orang-orang liberal mengusik Islam bahkan mengalihkan aqidah Islam dari tauhid kepada kemusyrikan – yang hal itu sangat membahayakan terhadap Islam— pun mereka tampak tenang-tenang saja. Sampai aliran sesat syiah pun dibela pula. Padahal aliran sesat syi’ah itu jelas-jelas menghujat para sahabat dan isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Anehnya, kesesatan itu mereka bela.  Tetapi kalau tahlilan peringatan orang mati yang jelas itu bukan dari Islam, ketika dijelaskan dengan dalil yang benar bahwa itu bukan dari Islam, mereka justru marah dengan aneka reaksi.
Kemarahan model ini akan menggembirakan orang kafir dan antek-anteknya, sekaligus menyeret Ummat Islam awam ke jalan yang kurang benar, yaitu tetap melestarikan adat yang tak sesuai dengan Islam.
Antara pemusyrikan (berupa liberalisasi Islam, pluralisme agama, dan multikulturalisme) dan pelestarian adat yang tak sesuai dengan Islam, di sana ada perancang-perancang yang berupaya untuk memainkan perannya dalam menghancurkan Islam. Maka betapa ruginya orang Islam dan yang mengaku Islam yang terjebak dalam lingkaran itu, hingga jerih payahnya bukan dalam memperjuangkan dan membela agama Allah Ta’ala, tetapi hanyalah dalam kancah permainan orang-orang yang menyerang agama Allah. Sedangkan upaya mereka itupun sia-sia belaka, karena Allah tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya walau dibenci oleh orang-orang musyrikin kafirin.
يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (٣٢)
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS At-Taubah: 32).
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (٨)هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٩)
8.  Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.
9.  Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (QS As-Shaff: 8, 9).
Ancaman adzab Allah
Islam dirongrong dari luar maupun dari dalam oleh pihak luar maupun pihak dalam. Bisa secara berkomplot dan bisa pula secara sendiri-sendiri demi mengejar dan mengikuti hawa nafsu. Namun Allah Ta’ala justru menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.  Sedangkan upaya dan rekayasa yang mereka lancarkan untuk merongrong bahkan memadamkan Islam itu balasannya tidak kembali kecuali kepada pelaku-pelakunya.
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَى مِنْ إِحْدَى الأمَمِ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلا نُفُورًا (٤٢)
اسْتِكْبَارًا فِي الأرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلا سُنَّةَ الأوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلا (٤٣)
dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran),
Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu[1261]. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (QS Fathir: 42,  43).
[1261]  yang dimaksud dengan sunnah orang-orang yang terdahulu ialah turunnya siksa kepada orang-orang yang mendustakan rasul.
Ancaman siksa Allah pun telah difirmankan:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (١١٥)
115.  Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115).
[348]  Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ (١٤)
  1. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS An-Nisaa’; 14).
Syaikh As-sa’di  (Abdul Rahman bin Nashir As-Sa’di) dalam tafsirnya, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan menjelaskan, yang dimasukkan dalam nama maksiat (durhaka) – di ayat ini– adalah kufur, bukan maksiat-maksiat yang lebih ringan dari kekufuran. Sehingga tidak ada suatu syubhat pun –seperti syubhatnya— khawarij yang mengatakan kafirnya ahli maksiat. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyiapkan surga bagi orang yang taat kepadaNya dan kepada RasulNya, dan menyiapkan neraka bagi yang durhaka kepadaNya dan kepada RasulNya. Maka barangsiapa menaati Allah dengan ketaatan yang sempurna, ia akan masuk surga tanpa siksaan, dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dengan kedurhakaan yang sempurna dan termasuk dalam hal itu adalah kesyirikan ataupun selainnya, ia akan masuk neraka dan ia kekal di dalamnya. Sedangkan barangsiapa yang bercampur padanya kemaksiatan dan ketaatan, maka ia memiliki penyebab pahala dan siksaan menurut apa yang ada padanya dari ketaatan dan kemaksiatan tersebut. Dan sesungguhnya telah banyak nash-nash (teks ayat ataupun hadits yang jelas) mutawatir yang menunjukkan bahwa (ahli maksiat) yang bertauhid yang membawa ketaatan bertauhid (meng-Esakan Allah, tidak menyekutukan dengan selain-Nya), mereka tidak kekal di neraka. Maka tauhid yang mereka miliki adalah penghalang bagi mereka dari kekalnya di neraka. (Tafsir As-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Muassasah Ar-Risalah, Beirut, cetakan pertama, 1423H/ 2002M, halaman 171).
Ancaman itu berlaku kepada siapa saja, baik dia berbuat secara sendiri-sendiri maupun secara berkomplot. Bahkan seluruh perbuatan itu diketahui Allah Ta’ala, baik berbuatnya secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Sampai-sampai yang terpendam di dalam hati pun Allah mengetahuinya.
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٩)يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (٣٠)
29.  Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
30.  Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (QS Ali ‘Imran: 29, 30).
Celakalah orang-orang yang merongrong agama Allah, dan berbahagialah orang-orang yang membela agama Allah.  Di akherat kelak akan mendapatkan balasan dari Allah, sesuai dengan apa yang telah mereka masing-masing kerjakan di dunia. Yang merongrong Islam, betapa ruginya. Upah atau keuntungan dari kerjanya yang buruk itu sudah habis di dunia dan tak bisa dibawa ke akherat. Sedangkan seandainya bisa dibawa ke akherat pun tak bisa untuk menebus siksa. Bahkan yang dulunya sama-sama dalam merongrong Islam pun tidak bisa saling tolong menolong untuk menghindari siksa. Sehingga dihinakan oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya;
مَا لَكُمْ لا تَنَاصَرُونَ (٢٥)بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ (٢٦)
25.  “Kenapa kamu tidak tolong menolong ?”
26.  Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri. (QS Ash-Shaaffaat/ 37: 25, 26).
Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam tafsirnya: Abdullah bin al-Mubarak berkata, aku mendengar ‘Utsman bin Zaidah berkata: Sesungguhnya hal pertama yang akan ditanyakan kepada seseorang adalah teman duduknya. Kemudian dikatakan kepada mereka dengan cara mencela dan menghina:
$tB مَا لَكُمْ لا تَنَاصَرُونَ
 “Kenapa kamu tidak tolong menolong ?”. yaitu sebagaimana kalian menyangka bahwa kalian seluruhnya orang yang mendapat pertolongan?
 بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ
Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri. Yaitu tunduk pada perintah Allah, tidak menyelisihi dan tidak pula menentangnya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhiem, ayat 25 dan 26 Surat ash-Shaaffaat).
Kalau sekarang di dunia ini mereka saling tolong menolong antara kafirin musuh-musuh Islam dengan orang yang mengaku Islam namun merongrong Islam, kelak di akherat mereka sama-sama akan mendapatkan siksa yang dahsyat, dan diawali dengan hinaan dari Allah: “Kenapa kamu tidak tolong menolong ?”.
Semoga kita diberi petunjuk dan pertolongan oleh Allah Ta’ala sehingga terhindar dari bahaya para perancang penghancuran Islam serta wadyabalanya itu, sehingga selamat di dunia maupun di akherat kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}. 
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. 
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

Tarekah Dewan Da’wah Ngabasmi TBC

DEWAN Da’wah sok sanajan wujudna Yayasan tapi boga gawé anu teu bina ti Orhanisasi Masarakat (Ormas) atawa Orhanisasi Da’wah (Orda) dina énggoning ngabénténgan umat tina panyakit Tahayul Bid’ah jeung Churofat téh nganggo sababaraha hambalan kagiatan.
Kahiji, ngirimkeun para da’i ka désa-désa nu aya di sakuliah Indonésia. Para da’i sumebar ka tengahing masarakat di daérah-daérah nu masih ‘rawan’ boh tina pamurtadan kaom palangis atawa masarakat nu masih héngkér agama katut darigamana ogé masarakat nu masih ngukut kapercayaan karuhunna.
Kadua, ku rupa-rupa tulisan. Déwan Da’wah ti pusat tug tepi ka propinsi boga média massa, saperti di Jawa Barat aya majalah Bina Da’wah nu medal dina basa Sunda, luyu jeung basa nu jadi sasaran da’wahna di wewengkon Sunda. Majalah Bina Da’wah medar rupa-rupa pasualan nu disanghareupan ku umat hususna di Jawa Barat.
Katilu, ku ngirim rupa-rupa buku, boh tafsir alQuran katut Haditsna atawa buku-buku séjénna pikeun référénsi para da’i jeung masjid-masjid anu jadi binaan Déwan Da’wah, bekel dina ngatik jeung ngabina para jama’ah.
Kaopat, ngadegkeun jeung ngabebenah ogé ngaronjatkeun pendidikan pormal, saperti paguron luhur atawa ngayakeun gawé bareng jeung paguron luhur pikeun nataharkeun para da’i tepi ka masagi dina agama katut darigamana, sangkan maranéhna bisa ngigelan jeung ngayonan tantangan jaman.
Pasualan-pasualan anu diungkulan ku Déwan Da’wah di daérah-daérah  mémang acan bisa disebutkeun geus tinekenan kana hasilna kalayan nyugemakeun.
Kusabab kitu, Déwan Da’wah terus narékahan cara nepika da’wah téh terus lumangsung bari mayeng diantarana ku cara-cara saperti nu disebutkeun tadi.
Nu kalintang penting pikeun dikanyahokeun, yén Déwan Da’wah terus ngirim-ngirimkeun buku-buku pakét ka masjid-masjid hususna nu jadi binaan Déwan Da’wah. Éta lain saukur bekelna para imam jeung da’i wungkul, tapi jauhna mah pikeun nyiptakeun pabukon di masjid-masjid. K ayana pabukon nu dieusi ku buku-buku nu medar pirang-pirang pasualan bari bener, dipiharep masarakat téh daék maraca. Tepi ka ku resep maca téh lahir jama’ah nu jembar élmu agama jeung darigamana, sok sanajan maranéhna téh aya di wewengkon nu nyingkur jauh ka kota.
Mémang, ieu tarékah nu ditaratas ku Déwan Da’wah téh tug tepi ka kiwari masih acan nyugemakeun. Tapi ku ayana ieu tarékah, muga-muga baé kahareupna mah diiluan ku ormas-ormas Islam atawa lembaga Da’wah séjénna pikeun nyieun pabukon di masjid-masjid kalayan boga buku anu kawilang lengkep tepi ka masarakat di désa-désa bisa paham Islam bari bener tina sumber aslina, alQuran katut Sunnah ogé sajarah Rosul SAW sareng para sahabatna jeung pinter dina bagbagan darigamana. ***
Ku : HM. Daud Gunawan, SE. (Wk. Ketua Umum Dewan Da’wah Jabar
(Amre/ddjb/Alma’/bd)

Selasa, 07 Februari 2012

Perbedaan Ekonomi Islam dengan Kapitalis dan Komunis


Jakarta (SI ONLINE) - Ekonomi Islam sangatlah berbeda dengan ekonomi Kapitalis dan Komunis. Ekonomi Islam mengharamkan adanya praktek riba, sedangkan Kapitalis dan Komunis justru menghalalkannya.
Kepada Suara Islam Online, Presiden Konfederasi Serikat Nasional (KSN) yang merupakan gabungan dari serikat buruh nasional, Ir H Ahmad Daryoko  mengakui perekonomian yang dikelola dengan Sistem Syariah sangat berbeda dengan Kapitalis apalagi Komunis.
“Kalau ekonomi Kapitalis semua diserahkan kepada mekanisme pasar, sementara Komunis semuanya milik negara. Sedangkan dalam Islam cukup sektor strategis saja seperti air, energi dan tanah yang menjadi milik negara untuk digunakan bagi kemakmuran rakyat. Sedangkan diluar ketiga sektor strategi itu diserahkan ke pasar dan bisa menjadi milik perorangan,” ujar mantan Ketua Umum Serikat Pekerja (SP) BUMN Strategis tersebut.
Namun sayangnya, kata Ahmad Daryoko, sampai sekarang penerapan ekonomi Islam belum pernah dicoba di Indonesia, sedangkan ekonomi Kapitalis dan Komunis sudah pernah dicoba tetapi akhirnya gagal semua. Pasalnya, kalau pemerintah Indonesia berusaha mencoba menerapkan sistim ekonomi Islam sehingga air, tanah dan energi menjadi milik negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat, maka Kapitalis dan Komunis pasti akan memusuhinya.
Mengenai negara mana yang konsisten menerapkan sistim ekonomi Islam sehingga dimusuhi Kapitalis dan Komunis, mantan Ketua Serikat Pekerja PLN itu menyebut Iran dan Malaysia. Pada kedua negara tersebut, ketiga sektor strategis itu menjadi milik negara bukan swasta apalagi swasta asing seperti yang terjadi di Indonesia. Bahkan di Iran harga Premium sangat rendah yakni Rp 1.000 per liter karena disubsidi negara.
Sektor energi seperti minyak di Indonesia dikuasai asing melalui UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas (Migas). Bahkan peran Pertamina dalam mengelola minyak dan gas terus dikurangi dengan dalih di tubuh Pertamina banyak koruptornya. Seharusnya koruptornya yang dibersihkan, bukan Pertaminanya yang dibabat habis. Ibarat ingin menangkap seekor tikus yang bersembunyi di lumbung padi, lumbung padinya malah  dibakar tetapi tikusnya tidak tertangkap.
“Sejak berlakunya UU Migas, produksi minyak Indonesia turun drastis dari 1,4 juta barrel perhari (bph) menjadi hanya 890.000 bph. Padahal cadangan minyak kita diperkirakan masih 3 miliar barrel (1 barrel = 159 liter),” ungkap Ahmad Daryoko. (*)
Rep: Abdul Halim

Jangan Ragu, Saatnya Islam Memimpin



|
Shodiq Ramadhan
Redaktur Suara Islam Online

Hanya beberapa jam setelah Tabloid Suara Islam (SI) edisi 127 lalu beredar di tangan pembaca, SMS Center SI kebanjiran SMS dukungan terhadap tiga calon pemimpin umat, Habib Rizieq Syihab, KH Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Abu Jibril. Hingga tulisan ini dibuat, SMS-SMS itu terus mengalir nyaris tiap menit. Tak kurang dari 2000 SMS kini telah terkumpul di SMS Center SI. Pengirim berasal dari pembaca SI di ujung barat wilayah Indonesia, NAD hingga ke Nusa Tenggara dan Sulawesi. Berdasarkan penghitungan sementara, nyaris 99% pengirim SMS memilih Habib Rizieq Syihab sebagai calon pemimpin Indonesia mendatang.

Apa yang saya paparkan di atas berawal dari tulisan di rubrik MUHASABAH yang diasuh Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al-Khaththath. Dalam tulisan berjudul “Perlu Wajah Baru Kepemimpinan Indonesia” itu, Ustadz Al-Khaththath mengumumkan kepada umat Islam Indonesia agar memberikan dukungan kepada salah satu dari tiga nama yang disodorkan, Habib Rizieq, ABB atau Abu Jibril.

Semua ini adalah sebagai ikhtiar untuk merubah Indonesia menjadi negara yang bersyariah dan dipimpin oleh orang yang amanah. Sebab sudah 66 tahun lebih setelah merdeka negeri milik umat Islam ini menerapkan sistem buatan Yahudi dan dipimpin oleh orang yang abai terhadap Islam dan urusan kaum Muslimin. Karena itu tak heranlah bila aliran sesat terus dipelihara dan bahkan miras akan dilegalkan. Padahal, seperti dikatakan Imam Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyah, tugas utama seorang pemimpin adalah untuk mengurusi urusan-urusan agama.

Tetapi anehnya, upaya mulia ini masih saja belum dipahami secara utuh oleh sebagian kecil umat Islam. Ada yang meragukan bahkan tidak sedikit yang pesimistis. Hal ini ditandai dengan dikirimkannya SMS oleh mereka tidak sesuai yang diminta. Sebagai contoh, ada yang berkirim SMS: “nama_alamat_Mahfudz MD Presiden”, ada pula yang berkirim “Prabowo Presiden, Habib Rizieq wapres”, malah ada yang SMS, “nama_alamat_Abu Rusyta’ Presiden”, yang akan membuat orang bertanya-tanya siapa dan orang mana Abu Rusyta’ itu?.  Bahkan di komentar SI Online ada seorang bernama Abu Alif berkomentar, “saya pilih syeikh abu rusytoh sebagai kholifah dunia, bukan presiden yang kecil”. Hmmm....

Nada pesimis lainnya, misalnya dikirim oleh orang yang menamakan dirinya Abi Syafa yang menulis “Bentuk kepemimpinan seperti presiden tetap saja melanjutkan metode dan cara-cara warisan belanda....siapapun individunya ABB, Habib dll sekalipun org-org yg taat ngga bisa bawa bangsa ini dengan cara menjadi persiden...terkecuali ia menjadi seorang kholifah.”. Di SMS Center SI juga ada yang menyatakan terus terang bahwa ia tidak setuju ulama menjadi pemimpin. Menurut si pengirim SMS, ulama selama harus tetap menjadi ulama. Syndrom sekulerisme tenyata masih melekat di benak sebagian umat.

Itulah sedikit contoh pesmisme bahkan ‘penolakan’ dari sebagian kecil umat Islam dengan ide yang dikeluarklan Sekjen FUI untuk memunculkan wajah baru kepemimpinan Indonesia.  Walaupun antusiasme dan dukungan terhadap gagasan itu jauh lebih besar. Ini terekam dalam SMS-SMS masyarakat yang menggambarkan kerinduan mereka dipimpin oleh seorang ulama yang adil dan amanah dan memimpin berdasarkan syariah Islam. Banyak sekali di antara mereka yang menyatakan akan mendukung habis-habisan dan bahkan ada yang menyatakan tiga dari nama calon pemimpin itu sama saja. Artinya siapapun yang terpilih adalah dambaan mereka. Saking semangatnya, ada salah satu pembaca SI yang mengirim sejumlah nama tokoh Islam dan usulan jabatannya dalam kabinet.

Bagi mereka yang setuju dan mendukung upaya yang dirintis melalui media SI ini, saya katakan kita harus konsisten dan memperjuangkanya semaksimal mungkin agar cita-cita itu tercapai. Perjuangan yang sungguh-sungguh dan optimal, insyaAllah akan membawa pada keberhasilan.

Sebaliknya bagi mereka yang pesimis dan mengartikan seolah-olah ini adalah upaya dalam ‘kungkungan demokrasi yang kufur’ dan memilih ‘presiden’ bukan memilih khalifah, yang menurut mereka bakal sia-sia, harusnya mereka baca dengan teliti artikel Sekjen FUI berjudul “Perlu Wajah Baru Kepemimpinan Indonesia” itu.

Sebagai seorang Muslim, aktivis Islam dan apalagi juga mantan ketua umum sebuah gerakan Islam yang mengusung perjuangan Khilafah, tentu saja Ustadz Al-Khaththath tidak akan ‘menggadaikan’ pemikiran-pemikiran yang selama ini diembannya untuk sesuatu yang bersifat pragmatis dan tidak Islami. Saya justru menilainya sebagai gagasan yang kreatif dan progresif. Perkara apakah upaya itu akan diraih melalui jalan PEMILU (intikhab) atau REVOLUSI (Inqilabiyah), tak perlu diperdebatkan. Yang penting umat Islam sepakat untuk perubahan dan mempersiapkan kekuatan untuk mencapainya. Hanya akan menjadi pepesan kosong bila kita terus berdebat soal pemilu (yang dikatakan bagian dari sistem kufur demokrasi), sementara kita tak melakukan upaya nyata penggalangan umat sama sekali.

Perlu diketahui, selain di Suara Islam, gagasan ini telah ditawarkan di berbagai forum pengajian dari kalangan Islam tradisional hingga mereka yang sering disebut Islam fundamentalis. Para jamaah semuanya menerima dan mendukung dengan antusias. Sekali lagi mereka sangat rindu Indonesia yang bersyariah dan pemimpin yang adil dan amanah.

Gagasan ini juga telah disampaikan di depan ribuan umat Islam yang mengikuti Aksi Tolak Pencabutan Perda Anti Miras di depan Kemendagri, Kamis (12/1/2012) lalu. Semuanya yang hadir sepakat mendukung. Bahkan dalam doa penutup aksi itu, Ustadz Al-Khaththath berdoa (dengan bahasa Arab) yang kurang lebih artinya, agar menjadikan Habib Rizieq sebagai amir (imam/pemimpin) yang akan menegakkan hukum-hukum syara’ dan mengemban da’wah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tentu saja, bagi mereka yang paham tentang siyasah syar’iyah akan memahami arti dan maksud doa itu. Sehingga perdebatan tentang istilah ‘presiden’ atau ‘khalifah’ tidak perlu lagi ada.

Sekali lagi, upaya merubah wajah kepemimpinan Indonesia bukan hanya sekedar mengganti orang. Gagasan utama merubah kepemimpinan Indonesia adalah perubahan sistem dari sistem buatan kaum Yahudi (Demokrasi, Kapitalisme, juga Komunisme/Sosialisme) menjadi sistem Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Harusnya cukup jelas apa yang telah ditulis Ustadz Al-Khaththath: “Saya serukan kepada para aktivis dan politisi muslim yang cinta Allah, cinta Rasulullah, cinta syariat Islam, cinta kepada umat: Sudah waktunya para aktivis muslim memulai menyusun langkah untuk menjadikan syariat Allah SWT berdaulat di bumi-Nya ini, khususnya di bumi pertiwi ini. Caranya tidak lain adalah mengubah wajah kepemimpinan Indonesia, dari wajah sekuler atau Islam separo-separo, kepada wajah Islam kaffah. Harus diangkat kepala negara dari kaum muslim garis kaffah untuk memimpin NKRI dengan syariah.  Orang-orang seperti Habib Rizieq, Abu Jibril, bahkan KH. Abu bakar Ba’asyir yang masih di penjara pun layak memimpin negeri ini."

Bahkan kalimat itu masih dipertegas lagi dalam penutupnya, “Insya Allah dukungan nyata itu bagian upaya menolong agama Allah SWT, menegakkan kedaulatan-Nya di Indonesia, dan mengubah wajah kepemimpinan Indonesia menuju Indonesia yang lebih bermartabat dengan syariah.” Dengan penjelasan gamblang begini, apakah Anda masih ragu juga?.

Wallahu a’lam bis shawab.

HAM Produk Asli Peradaban Barat



|
Jakarta (SI ONLINE) - Gagasan-gagasan Hak Asasi Manusia (HAM) adalah produk asli yang dikeluarkan oleh peradaban Barat. HAM terlahir dari sejarah gelap Eropa di masa pertengahan yang kemudian melahirkan sekulerisme. Dari sekulerisme inilah ide-ide HAM yang diadopsi saat ini berpijak.

"Jadi HAM itu produk peradaban Barat", kata Komisioner Komnas HAM Saharuddin Daming saat menjadi pembicara dalam Coffee Morning di Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII), Jl Daksa V, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu pagi (8/2/2012).

Munculnya HAM, kata Daming, merupakan pengalaman gelap Barat yang diawali dengan munculnya sekulerisasi. Sedangkan sekulerisasi sendiri awalnya hanyalah dalam sektor politik. Dalam perkembangannya, sekulerisasi merambah ke semua aspek. Akhirnya peran agama terus terpinggirkan.

"Karena sekuler, semua agama harus dikalahkan", kata Daming sambil mengutip perkataan Francis Bacon yang beraliran rasionalisme empirisme.

Sayangnya, sekulerisme yang berakar dari peradaban Barat karena kaum ilmuwan melakukan pengkritisan terhadap ajaran Bibel, itu kemudian diadopsi ke tengah-tengah umat Islam. Ujungnya, kata Daming, sarjana-sarjana Islam menjadi liberal dan ikut-ikutan mengkritisi Al-Qur'an. "Kemudian muncullah aliran Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (Sepilis) di masyarakat Islam", kata Daming.

Sepilis inilah yang disebut Daming sebagai penyakit yang sekarang menyerang umat Islam.  "Dulu di Muhammadiyah saya diajari bahwa umat Islam diserang penyakit TBC. Tahayul, Bid'ah dan Churafat. Sekarang penyakit umat Islam itu adalah Sepilis", ungkap doktor Universitas Hasanuddin Makasar itu.

Meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa keharaman paham Sepilis, lanjut Daming, tetapi para aktivis Sepilis terus mengakampanyekan konsep mereka termasuk di tubuh Komnas HAM. "Saya hampir tak berdaya menghadapi mereka yang bergerak dengan rapi", aku Daming.

Saharuddin Daming menjadi pembicara tunggal dalam Coffee Morning yang digelar KB PII. Ia mengaku berbicara dalam kapasitasnya sebagai pribadi, tidak mewakili lembaga.

Dalam diskusi yang berjudul "Mewaspadai Pendangkalan Akidah Melalui Isu-isu HAM" itu hadir Ketua Umum KB PII Sutrisno Bachir, Wakil Ketua KB PII Muchdi Pr, mantan anggota DPR Muttamimul Ula, Ketua LPPD Khairu Ummah Ahmad Yani, Ketua FORSAP Nurdiati Akma, dan sederatan alumni PII lainnya.