Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Senin, 13 Februari 2012

Tauhid Sumber Kebahagiaan


Sebagai orang yang mengaku beriman, yakinlah, dengan bertauhid seseorang bisa merubah keadaannya menjadi baik, niscaya ia akan mampu merubah seseorang menjadi orang yang penuh cinta kepada Allah Ta’alaa, penuh takut, dan penuh harap kepada Allah Ta’alaa. Rasa cinta kepada AllahTa’alaa, menuai umpan balik, yaitu AllahTa’alaa menjadi cinta kepada orang tersebut, sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim as, yang bertauhid kemudian cinta kepada AllahTa’alaa dan  Allah Ta’alaa membalas cintanya itu. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada  orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS. An-Nisa’ (4) : 125). Selain Nabi Ibrahim as, banyak lagi orang-orang yang karena bertauhid mendapatkan cinta Allah Ta’alaa, seperti diantaranya nabi Sulaiman as.
Kemudian rasa takut kepada Allah Ta’alaa akan menumbuhkan kebiasaan beristighfar, sedangkan AllahTa’alaa menjanjikan kepada hamba-Nya, ” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal (8) : 33).    Adapun orang-orang yang tidak mau beristighfar adalah mereka-mereka yang sombong, angkuh, dan memiliki sifat tercela lainnya, seperti kaum Tsamud, kaum ‘Ad, dan koruptor-koruptor  di zaman sekarang.
Rasa harap kepada Allah Ta’alaa, akan memberikan kekuatan kepada seseorang bahwa karakter kehidupan adalah sebagai cobaan, karena    orang yang bertauhid memahami yang demikian,maka ia bisa menumbuhkan rasa harap yang tinggi kepada Allah Ta’alaa. Tumbuh rasa sabar dan ulet dalam hidup dan kehidupan. Tidak mudah putus asa, dan selalu bangkit dari keterpurukan maupun cobaan. Adapun contoh orang-orang semacam ini adalah nabi Muhammad saw, Para Sahabat, dan Para Pejuang  Kemerdekaan RI.
Dari apa yang telah dipaparkan di atas maka semakin jelaslah, bahwa tauhid akan memberi dampak positif dalam kehidupan umat manusia, sebagai amalan hati, karena hati adalah salah satu bagian yang selalu dilihat dan diperhatikan AllahU. Maka, jika dalam hati itu tertanam pohon tauhid, AllahU akan selalu menjaga dan melindungi, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kepada jasad kalian dan pada wajah kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)
Kemudian tauhid dalam kaitannya dengan amalan lisan, dimana lisan selalu basah dengan dzikir kepada AllahU, maka yang bersangkutan akan selalu diingat  Allah U, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmendekat kepadanya. “Dan barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal niscaya Aku akan dekat kepadanya satu hasta, dan barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta niscaya Aku akan dekat kepadanya satu depa, dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan niscaya Aku akan mendatanginya dengan berlari (HR. Muslim).
Tauhid memiliki pengaruh positif yang begitu banyak bagi siapa saja yang menanam di dalam hatinya. Diantara sekian banyak dampak positif itu adalah sebagai pembersih jiwa dan raga, dan inilah yang membuat Malaikat senang dan selalu ingin berdekatan dengannya.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat (41) : 30)
Tauhid juga menanamkan hubungan baik antara sesama manusia dengan harmonis sebagaimana hadits dari Abu Hurairah t, ia berkata: Rasulullahr bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat) hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat) hendaknya memulyakan tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat) hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Muttafaq ‘Alaihi)
Tauhid menanamkan optimisme untuk menggapai masa depan yang gemilang, “Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Utelah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) AllahU tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan. (Lukman (31) : 20)
Kemudian dampak positif tauhid lainnya adalah menanamkan rasa harap yang tinggi terhadap syafa’at Rasulullah r di Padang Masyhar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah t, berkata Rasulullah r ketika ditanya, “Siapakah manusia yang paling bahagia menerima syafa’atmu pada hari Kiamat? Beliau menjawab: Manusia yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah yang berkata tiada Ilah (Tuhan) selain Allah, murni dari hati dan jiwanya.” (HR. Bukhari)
Tauhid juga menanamkan rasa harap yang besar terhadap kehidupan surga yang indah dan abadi, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh kenikmatan, Kekal mereka di dalamnya; sebagai janji AllahU yang benar. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Lukman (31) : 8 – 9).
Dan tentunya masih banyak lagi dampak positif dari bertauhid yang tidak mungkin ditulis secara keseluruhan. Tapi paling tidak dengan pemaparan di atas dapatlah mewakili sebagian dari dampak positif yang sangat begitu penting bagi manusia, karena tanpa tauhid itu niscaya manusia akan terpuruk dalam hidup dan kehidupannya di dunia maupun di akherat.
Sejarah mencatat umat manusia berulang kali mengalami keterpurukan, baik pribadi maupun dalam berbangsa. Keterpurukan itu AllahU berikan sebagai bentuk peringatan atau bisa jadi azab, supaya suku atau bangsa tersebut kembali kepada fithrahnya. Namun, apabila peringatan itu diabaikan, maka kemurkaan AllahU secara total akan dilimpahkan kepada suku atau bangsa tersebut secara massif. Hal tersebut pernah dialami oleh umat nabi Nuh u, nabi Shaleh u, nabi Hud u, dan nabi Luth u.
Semua kenyataan ini merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia dari dahulu hingga sekarang dan akan terus berlangsung sampai dunia ini Kiamat. Untuk itu, sunnatullah ini secara global terbagi menjadi dua;
Pertama, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaanberiman,maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl (16) : 97)
Kedua, “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnyabaginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.(Thaha (2) : 124)
Aquulu qauli hadzaa wa astaghfirullohal azhiim innahu huwal ghofuururrohiim.
Alhamdulillah, alhamdulillahi robbil ‘aalamin arrohmaanirrohiim, maaliki yaumiddin. Asyhadu allaailaaha ilalloh wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuuluh, allohumma sholli ‘alaa muhammad wa alaa ali muhammad kamaa shollaita ‘alaa ibrohiim …… innaka hamidun majid. Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh. Uusikum wanafsi bitaqwalloh faqod faadzal muttaquun. Ittaqulloh, ittaqulloh, ittaqulloha haqqo tuqootihi walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Inna akromakum indallohi atqookum.
Jama’ah Jum’at  yang berbahagia.
Untuk mengatasi persoalan itu dimana seseorang akan mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, ada beberapa solusi yang diantranya;
Pertama, menegakan kalimat tauhid secara ikhlas dalam lubuk hati yang paling dalam.
Kedua, memperbanyak istighfar seperti yang disarankan oleh nabi Nuh u pada kaumnya dan seperti yang dilakukan nabi Yunus dalam perut ikan hiu.
“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu ia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela, maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai  hari berbangkit.   (QS. Ash-Shaffat (37) : 139 – 144).
Ketiga, taqarrub kepada Allah  dengan berbagai amal shaleh, termasuk sedekah.
Keempat,saling mengingatkan. Kelima, saling menolong dalam kebaikan, “ … dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran ….  (al-Maidah (5) : 2).
( H. Abdul Wahid Alwi MA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar