Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Senin, 20 Februari 2012

BERPOLITIK BAGIAN DARI JIHAD


Mungkin ada yang bertanya apa hubungan jihad dengan politik? Tentu ada kaitannya. Sebab makna jihad dalam Islam itu luas. Kalau jihad itu diartikan perang melawan musuh, orang-orang kafir. Berpolitik itu juga bicara siapa teman siapa lawan, siapa sahabat siapa musuh. Apalagi jika berpolitik Islam, siapa yang mendukung tegaknya syari’at Islam itu teman seperjuangan, siapa yang tidak itu lawan yang harus dihadapi. Cuma bedanya dalam politik itu perang pemikiran dan otak, walau tidak mustahil ujungnya “adu jotos” bisa terjadi. Hanya bagi kita yang berpolitik Islam tidak tepat melakukan adu jotos, tapi adu argumentasi dan debat melawan lawan politik. Nah ketika kita berpolitik memperjuangkan tegaknya syariat Islam itu berarti kita berjihad, apalagi harus menghadapi lawan-lawan politik, yang tidak mustahil “main kayu” atau menggunakan fitnah, menyebarkan rumors, melakukan pembusukan dan sebagainya.
Kalau jihad diartikan bersungguh-sungguh, nah berpolitik pun kita harus serius, bukan setengah-setengah, apalagi main-main. Sebagai politisi Islam sadarilah bahwa perjuangan atau berjihad dalam menegakkan syari’at Islam itu harus sungguh-sungguh. Karena ita kita yang menjadi aktifis partai Islamya harus serius, kalau tidak bagaimana kita bisa menang. Bagaimana jihad yang kita lakukan dalam upaya menegakkan syari’at Islam bisa berhasil, untuk mendapatkan kursi saja tidak tercapai, sebagaimana terbukti pada Pemilu 2009 yang lalu. Jadi kesungguhan ini harus menjadi bagian dari berpolitik dalam Partai Bulan Bintang. Tanpa keseriusan kita PBB tidak akan mungkin bisa berhasil mencapai izzul Islam wal Muslimin.
Kalau kita membaca sejarah jihad Rasulullah Saw seakan apa yang dilakukan beliau itu tidak ada kaitannya dengan politik. Apalagi ada yang memahami bahwa politik itu tidak perlu, yang penting da’wah, sebab itulah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Padahal jihad yang dilakukan oleh junjungan kita itu justru di dalamnya terdapat keputusan politik dan strategi politik dalam menghadapi musuh dan lawan-lawannya, baik orang-orang Kafir Quraisy, Kaum Musyrikin, maupun kaum Yahudi, Nasrani pada saat melanggar perjanjian yang telah dibuat bersama dan orang-orang munafiq yang menohok dari belakang menggunting dalam lipatan sesuai dengan wataknya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Jihad atau perang melawan musuh waktu itu merupakan keputusan politik Nabi Muhammad saw sebagai kepala pemerintahan di Madinah, karena usaha-udaha perdamaian tidak dapat dilaksanakan. Apalagi ummat Islam pada masa itu diserang dan diperangi oleh mereka, maka tidak ada kata lain harus menghadapinya dengan resoki apapun. Keputusan yang diambil oleh Rasulullah itu tidak dapat tidak disebut sebagai sebuah keputusan politik yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Karena itu keberanian dalam  mengambil keputusan politik harus dilakukan oleh setiap pemimpin Muslim, termasuk pimpinan Partai Bulan Bintan (PBB) apapun akibat yang akan ditimbulkannya. Sebab bagi kita keputusan politik itu pun bagian dari jihad kita, apalagi sebagai pimpinan partai Islam yang memperjuangkan tegaknya syari’at.
Selain adanya keputusan politik, jihad yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat-sahabatnya itu juga tidak terlepas dari strategi politik, selain strategi militer. Strategi politiknya dapat dilihat pada saat Nabi Muhammad saw menetapkan siapa yang menjadi komandan dalam jihad melawan orang-orang kafir Quraisy. Selain itu beliau saw juga menempatkan para pengintai atau istilah kita sekarang “mata-mata” yang melakukan aktifitas intelejen untuk mengetahui kekuatan musuh dan keberadaannya sehingga strategi militer dalam menghadapinya bisa diatur dengan baik. Karena itu stratgei politik tidak bisa dipisahkan dengan strategi militer sehingga seorang pemimpin Muslim termasuk pemimpin partai Islam perlu mempelajari strategi militer, khususnya yang berkaitan dengan intelejen. Materi ini perlu diberikan dalam pelatihan-pelatihan dan kaderisasi di PBB, sebab ini termasuk yang juga digunakan oleh partai lain.
Selain beberapa hal di atas kita harus pahami bahwa politik itu merupakan salah satu aspek dalam ajaran Islam yang tidak bisa diabaikan dalam hidup dan kehidupan seorang Muslim. Karena memperjuangkan Islam termasuk menghadapi musuh-musuhnya merupakan bagian dari jihad fisabilillah, maka salah satu aspek yang perlu dipergunakan sebagai alat perjuangannya adalah partai politik. Apalagi bagi kita yang hidup di Indonesia, di Negara yang menganut faham demokrasi, maka tidak bisa tidak kita pun harus berjihad di bidang politik diantaranya melalui partai, khususnya partai Islam. Maka karena itulah sudahs eharusnya kita jadikan perjuangan politik kita melalui PBB ini sebagai bagian dari jihad kita di jalan Allah SWT.
Hanya ada satu hal yang harus mendapat perhatian kita di dalam berjihad sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya, bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak terlepas dari ibadah kepada Allah SWT dan mencari keridhoan-Nya, bukan untuk kepentingan lainnya, sehingga perjuangan mereka berhasil dan mendapatkan pertolongan dari-Nya. Karena itulah kita perlu jadikan pegangan sebagaimana Mohammad Natsir, mantan Ketua Umum Partai Masyumi jadikan sebagai moto hidupnya yang menunjukkan bahwa berpolitik itu juga bagian dari jihad kita di jalan Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut: 69).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar