Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Rabu, 17 Agustus 2011

Deradikalisasi Terorisme: Proyek Menjiplak AS yang Memerangi Ideologi Jihad

SUKOHARJO (voa-islam.com) – Program deradikalisasi terorisme yang dilakukan BNPT adalah proyek menghapus ideologi jihad yang merupakan ruh perjuangan umat Islam. Proyek ini menjiplak dari dokumen Rand Corporation yang disampaikan di Kongres Amerika Serikat.
Hal itu diungkapkan Munarman SH dalam acara bedah buku “Kritik Evaluasi dan Dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslimin di Indonesia” yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo di Masjid Baitul Makmur Solo Baru Sukoharjo, Ahad (31/7/2011).
Munarman memulai pemaparannya dengan menyampaikan dokumen Rand Corporation yang disampaikan di depan Kongres Amerika pada bulan Juli 2007.
“Dalam dokumen itu disebutkan bahwa pada hari sekarang ini, jika seseorang menyebut istilah Terorisme pasti terkait erat dengan ideologi ekstremis yaitu ideologi jihad yang dilakukan oleh kelompok Salafi Jihadis,” papar direktur An-Nashr Institute Jakarta itu.

Menurutnya, jika isu perang melawan teror atau War on Terror dikatakan bukan perang melawan Islam dan umat Islam, maka itu suatu kebohongan yang besar. Sebab sebagian besar program Deradikalisasi Terorisme merupakan jiplakan dari dokumen Rant Corporation. “Jelas sekali di situ dikatakan bahwa  perang melawan teror adalah perang melawan ideologi jihad, sedangkan yang mempunyai ideologi dan istilah jihad hanya Islam dan umat Islam,” tegas Munarman yang juga Ketua Bidang Nahi Munkar FPI Pusat itu.
Tak ragu-ragu lagi, Munarman menyimpulkan bahwa program deradikalisasi terorisme yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) adalah proyek menghapus istilah jihad yang merupakan ruh perjuangan umat Islam. “Program Deradikalisasi Terorisme yang sekarang ini sedang dijalankan oleh BNPT merupakan program untuk menghapus istilah dan nilai-nilai yang terkandung di dalam Islam khususnya istilah jihad yang merupakan ruh umat Islam demi tegaknya Syariat Islam,” jelasnya. “Hal ini sudah sangat jelas sekali dan terang benderang sebagaimana yang acap kali diucapkan melalui mulut Kepala BNPT Ansyad Mbai, mantan Kepala BIN Hendropriyono ataupun Direktur Penindakan BNPT Petrus Reinhard Golose,” imbuhnya.
Makar BNPT dalam memberangus jihad, jelas Munarman, adalah keberadaan Satgas Antibom yang dikomandani oleh Gories Merre. Satuan yang berada di bawah BNPT ini bertugas sebagai eksekutor tembak mati tanpa proses hukum.
“Salah satu elemen yang ada di bawah BNPT yaitu Densus 88, ada satuan Satgas Anti Bom yang langsung dikomandoi oleh Gories Merre. Satuan ini tidak berada di bawah struktur Densus 88. Satuan ini bertugas sebagai eksekutor tembak mati tanpa proses hukum bila polisi tidak bisa menangkap orang yang dituduh sebagai teroris. satuan ini tidak berlatih di Mabes Polri sebagaimana anggota Densus 88 lainnya, melainkan mereka berlatih di sebuah Pulau milik Pengusaha Tommmy Winata,” terang Munarman.
Pemateri terakhir, dr. Joze Rizal dari Mer-C mengapresiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo yang menerbitkan buku dan menggelar acara bedah buku bersama ormas-ormas Islam. “Saya sangat mengapresiasi langkah MUI Solo  dan elemen serta Ormas-Ormas Islam yang mengadakan  dan mendukung acara seperti ini. Harapan saya, acara-acara seperti ini lebih sering diadakan baik dalam forum seminar, halaqah, dauroh atau bedah buku untuk menguatkan ruhiyah kita dalam mendalami dienul Islam, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat agar mereka tidak disesatkan dengan acara Deradikalisasi lainnya. Acara ini perlu untuk memberi informasi yang berimbang atas berita yang disampaikan oleh media-media barat yang ada di Indonesia  dan bisa menjadi sarana menguatkan ukhuwah serta sebagai kantong saling bertukar pandangan untuk meminimalisir perbedaan yang ada,” ujarnya.
Joze mengimbau para aktivis Islam agar jangan takut memperjuangkan syariat Islam hanya karena ada program deradikalisasi BNPT. Pasalnya, tiga ideologi di dunia, Islam, Kristen dan Yahudi/Zionis, semuanya menegakkan ideologinya masing-masing. Yahudi berusaha membangun tatanan dunia baru, sedangkan Islam memperjuangkan Syari’at dan Khilafah. “Jadi umat Islam dan  para aktivis Islam jangan takut dengan program Deradikalisasi yang dilakukan oleh BNPT, karena kita sedang memperjuangkan ideologi yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab sejatinya mereka ini juga sedang melakukan perang ideologi kepada kita,” jelasnya. [Bekti Sejati]
CATATAN REDAKSI:
VCD dokumentasi acara bedah buku tersebut bisa didapatkan di kantor Radio Dakwah Syariah (RDS) Solo. HP: 081 226 170 777, telp: 0271 765 1818, email rdsfmsolo@yahoo.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar