Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Rabu, 06 Juni 2012

REVOLUSI YANG FATAMORGANA


Dr. Abdullah Ibn Muhammad Mudaifir
  Ketidakrelaan terhadap kezaliman dan upaya menghapuskannya merupakan fitrah setiap manusia. Karenanya, tak ada cela bagi sebuah bangsa yang berupaya untuk menghapus kezaliman dan menegakkan keadilan, dan ditempuh dengan cara-cara yang benar.
Celaan hanya tertuju kepada mereka jika menggunakan cara-cara yang tidak benar. Seperti bila metode yang dipakai tidak benar secara syariat, atau mengganti pemimpin yang zalim dengan yang lebih zalim, penguasa yang mengaku muslim dengan penguasa thogut, atau rezim yang relatif mampu menjaga stabilitas sosial dengan yang tak becus sama sekali.
Sejarah mencatat, sejumlah pergolakan massa yang awalnya disambut applause oleh mayoritas manusia, hanya berselang waktu kemudian justru berubah menjadi laknat. Laknat yang pahitnya harus masyarakat rasakan bertahun-tahun berikutnya. Alangkah penting bagi para pionir perubahan untuk mengambil pelajaran dari itu semua.
Termasuk beban yang luar biasa dan pengalaman yang sangat pahit jika sebuah  perubahan akhirnya hanya untuk mewujudkan kepentingan pihak asing. Saat sebuah bangsa muslim menganggap bahwa sebuah revolusi adalah milik mereka; namun kemudian yang tampak di hadapan mereka justru sebaliknya. Sebuah revolusi yang sebenarnya dimotori penjajah, tapi mereka persembahkan dalam bejana emas yang telah dibayar dengan keringat dan darah. Atau minimal revolusi untuk kepentingan bersama, antara bangsa muslim dengan penjajah, yang mana pihak kedua secara sengaja memberi dukungan demi menjamin tegaknya demokrasi yang liberal.
Akhirnya Islam tidak mendapatkan kemaslahatan sedikit pun dari perubahan yang ada. Konspirasi justru tertuju agar Islam tak mendapat tempat. Seperti dalam legislasi dan penetapan undang-undang. Bukan hal yang penting bila undang-undang tersebut menetapkan bahwa Islam merupakan agama negara. Bukan pula hal yang penting bahwa syariat Islam menjadi sumber utama undang-undang itu.
Yang terpenting justru agar syariat Islam tidak menjadi satu-satunya sumber undang-undang. Juga agar hanya badan legislatiflah yang menjadi satu-satunya rujukan dalam menetapkan setiap pasal yang diperselisihkan. Sudah barang tentu, anggota badan tersebut tidak pula terdiri dari ulama syariat kecuali sangat sedikit, sehingga tidak akan memberi pengaruh yang signifikan.
Inilah simpul dasar dalam pembelotan sebuah revolusi. Kita hampir dapat mencermati hal ini dalam setiap gerakan revolusi yang terjadi. Belum kita temukan sebuah gerakan revolusi yang tak menjadikan demokrasi liberal sebagai fondasi sistemnya. Padahal, demi Allah, sungguh merugi orang-orang yang menyingkirkan Islam dari kehidupannya.
Tatkala Amerika Serikat (AS) gagal mewujudkan tujuan dan kepentingannya dengan cara militer di Afghanistan dan Iraq, khususnya menjadikan Iraq sebagai model baru bagi demokrasi di Timur Tengah, kita pun mendengar dan membaca dari sejumlah penulis dan politikus mereka sejumlah wacana. Wacana tentang perang pemikiran, soft power, dan upaya menarik simpati.
Awalnya, revolusi Tunisia bersifat spontan dan berjalan tanpa arah yang pasti. Arah arus revolusi mengkristal justru nanti setelah revolusi berjalan. Pasca  revolusi di Tunisia itu, revolusi lain di dunia Arab tidak lagi terjadi secara serampangan. Walaupun tetap terinspirasi oleh Tunisia atau dibuat untuk terinspirasi oleh revolusi tersebut.
Meski revolusi negara-negara Arab yang terjadi saat ini merupakan hasil dari pergolakan pemikiran, akan tetapi AS-lah yang sebetulnya pihak yang meraup  keuntungan terbesar. Amerika bahkan meraih keuntungannya tanpa kehilangan seorang prajurit pun. Selain biaya dukungan, perlindungan dan pengarahan terhadap berbagai revolusi ini.
Semua itu dimaksudkan agar negara-negara yang bergolak tersebut hidup dengan gaya demokrasi sekuler ala Barat. Atau mungkin juga dalam suasana konflik berkepanjangan, yang mengakibatkan munculnya berbagai problem sosial. Konflik mana berpotensi mengantarnya kepada perpecahan, untuk kelak menjadi beberapa negara kecil.
Meskipun para penulis AS sendiri tahu bahwa mereka tidak akan sukses meraih cita-citanya jika melakukan serangan kepada beberapa negara pada waktu yang bersamaan, tetapi saya yakin bahwa mereka bisa saja sukses dalam perang pemikiran terhadap 100 negara pada waktu yang sama. Ia berupaya meruntuhkan suatu negara yang telah usang, untuk diganti dengan negara baru yang bercorak demokrasi liberal ala Amerika. Sehingga negara-negara muslim melepaskan identitas keislamannya dan menjadikan agama semata urusan individu dengan tuhannya. Agama tidak ada hubungannya dengan kehidupan umat manusia.
Sebenarnya mewujudkan tatanan pemerintahan demokrasi liberal merupakan salah satu tujuan utama AS sejak runtuhnya Uni Soviet tahun 1411 H/1991 M. Meskipun AS belum meraih sepenuhnya seluruh kepentingan politiknya dalam jangka pendek, seperti yang diraih oleh sebagian rezim pemerintahan saat ini, akan tetapi diaberharap dapat meraup keuntungan yang besar dalam jangka panjang.   
Di tengah kebimbangan AS dalam menyikapi dilema antara kepentingan jangka panjang dan jangka pendek itu, terjadilah berbagai peristiwa tahun ini. Peristiwa yang memperkuat kepentingan jangka panjangnya, yang memberikan kesempatan yang sangat baik bagi Amerika untuk mewujudkan ambisi-ambisinya dengan sangat mudah. Karenanya, AS segera memberikan dukungannya terhadap gerakan-gerakan revolusi tersebut.
Akhirnya era ini menjadi era pemberangusan AS terhadap negara-negara, baik itu aliansi AS sendiri maupun bukan, demi mewujudkan pemerintahan demokratis yang membangun prinsip, kebiasaan dan nilai-nilainya secara global. Tidak ada pengecualian dalam hal ini, sejauh apapun tingkat kedekatannya dengan AS.
Analis politik terkemuka, Dr. Gregory F. Treverton pernah mengutarakan pertanyaan: haruskah AS berlepas tangan dari pemerintahan otoriter yang  rusak? Lalu ia menjawabnya sendiri secara vulgar dalam suatu laporan yang diajukannya kepada Kementrian Luar Negeri AS tahun 2010 M. Laporan ini lahir dari sebuah proyek studi: Making Policy in the Shadow of the Future.
Di dalamnya, ia menulis: “upaya memkompromikan antara kepentingan ketersediaan bahan bakar dan perang terhadap terorisme mengantar Amerika bersekutu dengan negara-negara non- demokratis, atau negara-negara yang dibenci, atau kedua-duanya. Dimulai dari Mesir, Kerajaan Saudi Arabia, sampai kepada Pakistan dan beberapa negara lain yang masuk dalam klasifikasi ini. Tapi jawaban terhadap pertanyaan: apakah AS harus berlepas diri dari rezim otoriter yang  rusak; adalah: ya. Akan tetapi, bukan saat ini. Mungkin strategi yang paling tepat dilakukan Amerika sementara ini adalah mengurangi ketergantungannya terhadap BBM impor. Tujuannya, agar membantu mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara pengimpor BBM yang tidak disenanginya”.[1]
Presiden Amerika telah mengusulkan sejak Maret 2011 yang lalu untuk mengurangi 1/3 dari total impor minyak yang masuk sampai 10 tahun mendatang. Hal ini dilakukan dengan mengembangkan secara intensif bahan bakar alternatif sambil meningkatkan produksi bahan bakar local, serta menghemat penggunaannya.
Pertanyaannya kini, apakah revolusi Arab menyadari hal ini? Tidakkah mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka telah jatuh ke dalam perangkap demokrasi yang diperalat? Dimana akhirnya mereka harus membayar utang berat yang sebenarnya tak perlu. Yang ketika itu tidak akan ada lagi revolusi, karena rezim-rezim demokratis memiliki kemampuan untuk meredam kemarahan rakyatnya. Selain itu, revolusi akan semakin sulit untuk terjadi, karena tak ada lagi dukungan politik dan pasokan dana. Bahkan mungkin tidak akan dibiarkan tumbuh dan berkembang.
Pandangan di atas mungkin sulit untuk diterima sebagian kalangan. Di tengah euforia rakyat banyak terhadap revolusi dan kemampuannya menjatuhkan rezim thogut, menyusul harapan masa depan yang cerah.
Tapi andai suara saya didengar, maka saya hendak menyampaikan kepada segenap rakyat dan penguasa muslim untuk mempromosikan proyek yang mungkin saja melawan arus utama yang ada. Yaitu untuk mewujudkan pemerintahan yang melakukan revolusi secara  total, esensial, cepat dan adil dalam segala bidang. Proyek yang melibatkan rakyat banyak untuk bekerjasama dengan pemerintah, dengan saling mengakomodir kepentingan antara satu sama lain.
Proyek untuk untuk mewujudkan fondasi masa depan yang rabbani, yang dapat mewujudkan rekonsoliasi, saling menerima dan mencintai di antara pemimpin dan yang dipimpin. Dimana masing-masing pihak berusaha menggapai ridha Allah dalam segala sisi kehidupan, khususnya dalam bidang politik, ekonomi dan sosial.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa mencari ridha Allah meskipun dengan ia dibenci oleh manusia, niscaya Allah menjaganya dari beban manusia. Dan barang siapa yang mencari ridha manusia dengan apa yang dimurkai Allah, niscaya Allah melimpahkan segala urusannya kepada manusia." (HR. Tirmizi)
Inilah prinsip yang kokoh, yang tidak akan dianggap enteng kecuali oleh orang yang dalam hatinya ada penyakit, yang lalai terhadap akibatnya yang merusak.
Revolusi Arab hendaknya tidak terpengaruh oleh bisikan syaitan yang menakut-nakuti mereka terhadap intervensi militer Barat. Karena"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman, sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat". (QS: al-Hajj: 38)
Dengan persepsi yang sama antara pemimpin dan rakyat seperti ini, niscaya akan terwujud suatu revolusi yang hakiki. Kemajuan dan pengembangan yang sebenarnya akan terlaksana. Dan akibat-akibat yang tidak nampak dari suatu revolusi akan dapat dihindari.
Tetapi kesamaan persepsi ini tidak akan terwujud kecuali dengan saling pengertian, lemah lembut, dan prasangka baik antara sesama pihak kepada pihak yang lain.
Al-Qur’an menginformasikan kepada kita tentang suatu umat yang selamat setelah memperbaiki kondisinya setelah melihat azab Allah.
{ فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ } ( يونس: 98)
"Dan mengapa tidak ada penduduk suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat selain Kaum Yunus? Tatkala mereka kaum Yunus itu beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri  kepada mereka kesenangan sampai  waktu tertentu". (QS: Yunus: 98)
Al-Qur’an juga menginformasikan kepada kita tentang umat-umat yang telah binasa tatkala mereka menganggap remeh datangnya azab Allah, dan tidak berusaha untuk menghindari sebab-sebabnya.
{ فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ . تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ  } ( الأحقاف: 24- 25)
"Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang menurunkan hujan kepada kami.’ Bukan! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera yaitu angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali bekas-bekas tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa". (QS: al-Ahqaaf: 24-25)
Pekerjaan rumah ini  merupakan tanggung jawab setiap pemerintah, pemegang opini, ulama, intelektual, pemikir, muballig, dosen, guru, media, politikus, tokoh masyarakat, ormas dan pusat-pusat studi serta semacamnya.
Kita berdoa kepada Allah untuk mengasihi dan memperbaiki kondisi kaum muslimin. Juga agar Allah menjadikan segala makar dan kejahatan musuh-musuh umat ini sebagai kehancuran bagi musuh-musuh itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar