Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Rabu, 08 Juni 2011

Mister Anu & Pengecut

Mister Anu & Pengecut

Ramadhan Pohan melontarkan isu Mr A obok-obok Partai Demokrat. Identifikasi, tokoh itu bermodal besar dan lama malang-melintang di dunia politik. Kebetulan inisial A terlalu banyak, maka isu ini bak bola salju. Menggelinding semakin deras. Dan nabrak ke mana-mana. Benarkah ini buruk muka cermin dibanting?

Partai Demokrat harus pontang-panting. Bendaharanya, Nazaruddin tersandung masalah, dipecat, dan kabur berobat ke Singapura. Ini menimbulkan spekulasi. Nazaruddin memang disuruh kabur. Itu agar borok para petinggi partai ini tidak terkuak semuanya.

Spekulasi itu semakin genting, karena dari Singapura bertebaran SMS atas nama Nazaruddin yang membukai dana-dana siluman yang diterima tokoh-tokoh partai ini. Makin gawat saja, karena SMS itu berisi ancaman, daftar nama orang-orang yang bermasalah, penyimpangan dana, dan yang telak, melecehkan SBY Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Saat Partai Demokrat gonjang-ganjing itu, tiba-tiba Ramadhan Pohan, Wasekjen partai ini melontarkan isu. Katanya, Partai Demokrat sedang diobok-obok orang luar. Pengobok-obok itu memakai kader partainya. Dengan menggunakan dana besar, tokoh berinisial A itu menjalankan aksinya.

Nama politisi berawalan A terlalu banyak. Bisa sekarung figur dimasukkan. Sebab hampir tiap partai punya tokoh berinisial A. Belum lagi kalau A itu diterjemahkan menjadi 'anu', yang terminologinya adalah siapa saja. Jika begitu, maka orang sak jagad kerat (orang sedunia) memenuhi syarat disebut sebagai tukang obok-obok Partai Demokrat.

Tudingan itu tidak hanya berhenti di sini. Ada sedikit batasan dari lontaran isu mantan wartawan ini. Tokoh yang dimaksud selain bukan berasal dari dalam Partai Demokrat, dia juga disebut bermodal besar, dan kawakan di dunia politik. Batasan ini mengerucutkan pengertian, bahwa yang mengobok-obok itu berasal dari partai yang selama ini acap mengkritisi Partai Demokrat, dan tokoh politiknya itu berpengalaman serta cukup modal.

Dari definisi itu tudingan bisa ditafsir mengarah ke Partai Golkar. Partai ini dihuni tokoh-tokoh hebat. Sangat kapabel di bidang politik. Sangat liat bersikap dan menyikapi tiap persoalan. Tidak picik dan pengecut dalam memperjuangkan tujuan, serta legowo bermesraan kembali ketika dikalahkan. Sebagai partai yang mesin politiknya sudah jalan, maka untuk logistic, tentu tidak perlu diragukan.

Dari Partai Golkar, inisial A terwakili Agung Laksono, Aburizal Bakrie, dan Akbar Tanjung. Tiga tokoh itu bisa diperkecil menjadi dua. Aburizal Bakrie mewakili cap bermodal besar. Sedang Akbar Tanjung mewakili politisi berpengalaman.

Namun mengingat primordialisme, Anas Urbaningrum mantan HMI, tudingan itu menukik pada Akbar Tanjung. Itu yang membuat Ketua Dewan Pembina Partai Golkar ini mencak-mencak. Dia seperti ketiban awu anget, kejatuhan bara panas. Tidak tahu duduk soal dan tidak mau tahu persoalan partai lain, tiba-tiba Partai Demokrat yang sedang 'gegeran angpao' mengarahkan tudingan padanya.

Ini tidak baik. Ini bentuk kepengecutan. Lempar tanggung jawab. Fitnah. Tidak dewasa. Terjadi disharmonisasi dalam tubuh internal, untuk menutupi kekacauan serta kepanikan dalam tubuh partai itu dicarikan kambing hitam. Pihak lain didiskreditkan. Pihak luar disalahkan.
SBY berulang-ulang bilang ksatria, gentleman, dan sebagainya. SBY selalu bilang jangan pengecut, bersembunyi, dan tidak berani berhadap-hadapan. Tapi kini kadernya melakukan itu. Tidak berani tunjuk langsung. Berada di kegelapan kata. Itu dilakukan di tengah keterbukaan yang dijamin hak-haknya.

Janganlah Partai Demokrat menerapkan politik buruk muka cermin dipecah. Sebagai partai yang berkuasa, langkah itu tidak mendidik. Justru sebaliknya, mengajak yang lain selalu berburuk sangka. Ataukah Partai Demokrat memang sedang mengkampanyekan sikap pengecut dalam berpolitik?

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya, tinggal di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar