Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Senin, 27 Juni 2011

POLITIK DUA WAJAH PRESIDEN SBY

Oleh : AMRAN NASUTION
Kekalahan Andi Mallarangeng di Kongres Partai Demokrat, kasus Susno Duadji atau Sri Mulyani, akibat dua gaya berpolitik SBY. Benarkah?
Ada yang menduga Andi Alfian Mallarangeng menghabiskan dana kampanye sampai puluhan milyar, bahkan mungkin ratusan milyar rupiah. Dugaan itu wajar saja bila dilihat betapa di seantero pelosok Tanah Air foto diri pria berkumis itu terpampang dalam berbagai baliho raksasa. Belum lagi banjir iklan dan reklame di sejumlah koran dan televisi seluruh Indonesia.

Baliho, poster, reklame atau iklan Mallarangeng tampaknya hanya kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam musim kampanye pemilihan Presiden (Pilpres) tahun lalu. Artinya, baru pertama kali ini terjadi kongres partai begitu riuh-rendah oleh iklan dan reklame dari seorang calon ketua umum. Mallarangeng seakan sedang  menghadapi kampanye Pilpres. Padahal dia hanya mengikuti pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat dalam kongres yang berlangsung di Bandung, 21 – 23 Mei 2010.

Yang berhak memilih dalam kongres itu hanya pengurus partai tingkat provinsi dan kabupaten/kota, jumlahnya cuma 531 orang. Sementara kampanye Mallarangeng begitu massif ditujukan kepada seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Mengapa Mallarangeng menembak lalat dengan meriam?

Bukan itu soalnya. Sejak awal tampaknya Presiden SBY telah menjatuhkan pilihan kepada Mallarangeng, 47 tahun. SBY rupanya cukup puas dengan penampilan pria berkumis tebal asal Makassar yang selama lima tahun ini jadi juru bicaranya. Itu terbukti dari penunjukan Andi sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga dalam Kabinet SBY Priode II. Bahkan dua adik Andi, Rizal Mallarangeng dan Choel Mallarangeng, adalah juga pendukung SBY yang aktif dalam Pilpres lalu. Choel memimpin Fox, mengurusi seluruh kampanye SBY.

Jika SBY mendukung Andi Mallarangeng menjadi Ketua Umum Partai Demokrat tentu tak semata oleh pertimbangan kedekatan itu. Ada hitung-hitungan lain. Misalnya, gampang ditebak Mallarangeng yang asal Makassar itu tak akan jadi pesaing potensial dalam Pilpres 2014, sekali pun ia memegang jabatan ketua umum partai terbesar itu. Tambahan lagi penampilan Mallarangeng yang high profile, kian memperkecil potensinya.

Itu beda, misalnya, bila dibanding dengan Anas Urbaningrum, 41 tahun, salah seorang Ketua Partai Demokrat dan memimpin fraksi partai itu di DPR, yang juga bersiap untuk menjadi calon Ketua Umum Partai Demokrat.

Anas seorang Jawa (lahir di Blitar, Jawa Timur) yang sudah terlatih dalam organisasi sejak dini. Anas pernah menjadi Ketua Umum PB HMI. Dari perkawinannya, Anas menjadi keluarga Pesantren Krapyak, salah satu pesantren terpenting di Jawa. Tokoh muda ini seakan sudah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin nasional di masa datang.

Penampilan Anas yang low-profile, emosinya yang selalu terkontrol, serta bicaranya yang fasih, menambah tinggi ‘’daya jual’’-nya. Artinya, Anas adalah calon potensial untuk menjadi presiden dalam Pilpres 2014, bila terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

SBY yang sudah dua priode menjadi presiden, pada Pilpres 2014 tak boleh lagi dicalonkan. Tapi SBY sendiri nampaknya punya agenda ingin mencalonkan istrinya, Nyonya Ani Yudhoyono. Ia rupanya ingin meniru Nestor Kirchner yang pada 2007, digantikan istrinya, Cristina Kirchner, sebagai Presiden Argentina dan sukses. Di Amerika Serikat saja, Hillary Clinton mencoba menjadi presiden sebagaimana suaminya, Bill Clinton. Sayang dia dikalahkan Barack Obama di babak pendahuluan Pilpres.

Demi suksesnya rencana inilah mengapa Andi Mallarangeng harus menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Andi sendiri agaknya melihat peluang yang baik ini. Dan ia tampak sangat yakin akan terpilih, terutama setelah  Edhie Baskoro alias  Ibas, putra SBY, menjadi pendukung sekaligus juru kampanyenya.

Bagi Andi kehadiran Ibas sesuatu yang sangat berharga. Dia dianggap mewakili sosok ayahnya atau Cikeas. Lihat saja dalam pemilihan umum legislatif yang lalu, ketika Ibas mencalonkan diri di Jawa Timur. Jelas ia cuma ‘’anak kemarin sore’’ di dunia politik. Ternyata ia menjadi pengumpul suara terbesar. Semua terjadi karena ia putra SBY dari Cikeas.

Maka kehadiran Ibas dalam kampanye-kampanye Andi Mallarangeng di daerah betul-betul dimanfaatkan maksimal. Ibas sendiri mencoba meyakinkan para elit partai di daerah bahwa suaranya adalah suara ayahnya.  ‘’Semua sudah jelas, kenapa saya ada di sini,’’ kata Ibas setiap bertemu para pengurus daerah, memberi isyarat bahwa ia membawa pesan ayahnya.

Padahal kalau mau memegang etika, Ibas mestinya tak boleh berkampanye karena dia adalah Ketua Panitia Pengarah Kongres (steering Committee).

Dengan penampilan Ibas, Andi merasa sudah pasti terpilih. Karena itu, Andi pun bersiap dengan agenda berikutnya, yaitu mempersiapkan diri sebagai calon wakil presiden untuk mendampingi Nyonya Ani Yudhoyono. Sangat logis, Nyonya Ani yang orang Jawa akan mencari orang luar Jawa sebagai wakilnya. Dan pilihan yang sangat mungkin adalah pada Andi Mallarangeng, bila ia memang terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Memang elektabilitas Mallarangeng kecil, disebabkan berbagai hal yang sudah disebut di atas. Dan itu sudah terbukti. Sebelum bergabung dengan SBY,  Mallarangeng menjadi Sekjen Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) pimpinan Profesor Ryas Rasyid. Ia menjadi calon legislatif daerah pemilihan Jakarta, dan gagal terpilih karena suara yang diperolehnya sedikit.

Oleh karena itu namanya perlu dipasarkan sehingga pada waktunya kelak ia siap menjadi calon Wakil Presiden. Untuk itulah dipersiapkan kampanye besar-besaran memasarkan Mallarangeng kepada rakyat Indonesia, dengan memanfaatkan momentum Kongres Partai Demokrat. Jadi sekali lagi, kampanye besar-besaran Mallarangeng itu bukanlah upaya menembak lalat dengan meriam.

Sayang semua skenario berantakan ketika ternyata Mallarangeng keok dalam kongres, dan pemenangnya adalah Anas Urbaningrum. Kenapa itu bisa terjadi? Ada beberapa alasan.

Pertama, faktor Andi Mallarangeng sendiri. Sebagai salah satu Ketua Partai Demokrat, selama ini ia tak pernah bersosialisasi ke bawah. Ia hanya berakar ke atas. Jabatan Juru Bicara Presiden membuatnya cukup puas bisa berhubungan dekat dengan Presiden SBY dan keluarga.

Sementara itu dua saingannya sebagai calon ketua umum yaitu Anas Urbaningrum  dan Marzuki Alie adalah orang yang memiliki hubungan erat dengan elit partai di daerah. Sebagai orang yang sudah berpengalaman memimpin HMI,  organisasi mahasiswa terbesar, Anas memanfaatkan jabatannya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrat untuk menjalin komunikasi ke daerah. Begitu pula Marzuki. Sebagai Sekjen Partai Demokrat sebelum terpilih menjadi Ketua DPR, ia leluasa dan intens berhubungan ke ‘’bawah’’. Dan keduanya ternyata berbakat menebar pengaruh.

Tapi yang terpenting dari penyebab kekalahan Andi Mallarangeng adalah faktor Presiden SBY sendiri. Sudah banyak diketahui sekarang, SBY selalu tampil dalam dua wajah. Yang satu adalah wajah yang ideal sebagai seorang negarawan, dan yang satu lagi adalah wajah seorang politisi yang lebih realistis dan penuh kalkulasi.
Wajah yang pertama ingin selalu ia tampilkan di depan umum, terutama melalui pidato atau konprensi pers.

Karenanya para pengamat politik menjulukinya sebagai tokoh yang sangat menjaga citra atau sangat mementingkan politik pencitraan atau menjaga image alias jaim dalam bahasa prokem. Wajah politisi adalah sesuatu yang tak ideal, terkadang melanggar norma, dan wajah ini selalu ingin disembunyikan SBY.

Di depan para menterinya, belum lama ini, Presiden SBY mengkritik sejumlah bupati/walikota yang mencalonkan istri setelah dia sendiri tak boleh mencalonkan diri. Bagi sejumlah menteri, pernyataan SBY itu merupakan isyarat bahwa Nyonya Ani Yudhoyono tak akan jadi calon Presiden pada 2014. Tapi menteri yang lain punya pendapat lain karena sudah menangkap isyarat dari SBY bahwa sang istri akan maju sebagai calon presiden dalam Pilpres mendatang. 

Dalam kasus pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas mau pun Marzuki berhasil memanfaatkan dua wajah SBY itu, dengan meyakinkan elit daerah bahwa yang menghendaki Andi Mallarangeng bukan SBY, melainkan hanya Ibas.

Bisik-bisik yang menyebutkan SBY mengirim Menko Polhukam Djoko Suyanto untuk menyuruh Anas mengundurkan diri dari pencalonan, tak lagi berpengaruh. Apalagi di arena kongres Presiden SBY tampil dalam wajah negarawan, menyampaikan pesan agar para peserta kongres memilih sesuai dengan hati nurani. Maka Anas pun terpilih.

Memang ada faktor lain dan sempat menjadi isu menjelang kongres: politik uang. Radytio Gambiro, salah seorang Tim Sukses Andi Mallarangeng sempat melempar tuduhan terjadinya politik uang oleh Tim Sukses Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie, dalam keterangan pers 17 Mei 2010. Gambiro mengatakan isu itu dia peroleh berdasarkan laporan DPC-DPC (Dewan Pimpinan Cabang). ‘’Jumlahnya di atas puluhan juta rupiah,’’ katanya waktu itu.

Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina dan pendiri Partai Demokrat ketika membuka kongres, 21 Mei 2010, sempat pula mengingatkan peserta kongres untuk menghindari politik uang. ‘’Cegah dan hindari cara yang menghalalkan segala cara, politik uang, dan kekerasan yang tidak semestinya,’’ katanya.

Sejalan dengan sistem demokrasi liberal yang kita trapkan sejak reformasi 1998, politik uang (money politic) memang mewabah dalam perpolitikan Indonesia dari atas sampai bawah. Dari kota besar sampai pedesaan. Tapi baiklah soal itu dibahas dalam kesempatan lain.

Nyatanya sekarang, politik dua wajah Presiden SBY bukan cuma membuat Andi Mallarangeng ‘’tergelepar’’ dalam kongres, tapi sudah menyebar ke mana-mana. Dalam bentuk yang berbeda nasib seperti Mallarangeng dialami Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Komisaris Jenderal Susno Duadji dan sejumlah petinggi atau bekas petinggi Polri. Kasus serupa terjadi pada mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati atau bekas pejabat tinggi Departemen Keuangan, Anggito Abimanyu, atau beberapa lainnya.

Kekisruhan sekarang di Mabes Polri bermula ketika polisi menangkap dua pimpinan KPK, Bibit dan Chandra. Dan langkah Polri itu (didukung Kejaksaan Agung) sebenarnya sepengetahuan Presiden SBY. Belakangan setelah kaset rekaman Anggodo diputar Mahkamah Konstitusi dan menimbulkan histeria massa, Presiden SBY jadi ‘’keder’’ dan membentuk Tim yang dipimpin Adnan Buyung Nasution.

Rekomendasi Tim kepada Presiden adalah membebaskan Bibit dan Chandra dari rumah tahanan polisi.  Keduanya memang segera dibebaskan. Itu berarti Presiden SBY mencampuri urusan polisi dan Kejaksaan Agung untuk membebaskan Bibit dan Chandra (tanpa lewat sidang pengadilan). Meski pun polisi dan Kejaksaan Agung sangat yakin bahwa bukti-bukti yang mereka kumpulkan sudah cukup.

Bandingkan ketika istri Susno Duadji mengirim surat kepada Nyonya Ani  Yudhoyono melaporkan penangkapan suaminya oleh Mabes Polri, Presiden SBY menjawab bahwa ia tak akan pernah  menyampuri urusan hukum.

Susno yang merasa ‘’dikorbankan’’ sendirian dalam kasus pimpinan KPK itu, segera melakukan aksi dengan membongkar kebobrokan di Mabes Polri. Susno tampaknya ingin memanfaatkan momentum pemberantasan mafia hukum sebagaimana dipidatokan Presiden SBY, dan diikuti dengan pembentukan badan adhok anti-mafia hukum, yang langsung berada di bawah presiden.

Tapi Susno lupa bahwa sikap anti-mafia hukum dari Presiden berasal dari wajah negarawannya. Ketika ternyata sang peniup pluit (whistle blower) itu ditangkap dan hal itu dilaporkan, muncul wajah yang satu lagi, politisi yang selalu membuat kalkulasi untung-rugi. Maka Susno pun sekarang menjadi korban kampanye anti-mafia hukum dari Presiden SBY. Whistle blower itu harus mendekam di bui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar