Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Senin, 10 Oktober 2011

Ekonomi Syariah landscape Perekonomian Masa Depan




Bulan-Bintang.Org--Para ahli dan pakar ekonomi  sangat menyadari betapa keroposnya perekonomian dunia belakangan  ini. Kenyataan tak terbantahkan lagi bahwa perekonomian sistem kapitalis sedang berada di ambang kebangkrutan. Sistem ekonomi kapitalis telah menciptakan kesenjangan dunia  yang semakin menganga, betapa tidak kekayaan tiga orang terkaya di dunia sama nilainya dengan empat puluh delapan kekayaan Negara terkebelakang. Kapitalis telah membelah dunia menjadi dikotomi  Negara kaya dan Negara miskin, Negara maju (developed) dan Negara terkebelakang (underdeveloped).

Sistem riba dalam ekonomi kapitalis telah membenamkan Negara-negara terkebelakang dan Negara berkembang dalam lilitan hutang dan ketergantungan berkepanjangan kepada Negara-negara maju, dan yang lebih anehnya lagi system kapitalis telah pula memporak porandakan Amerika Serikat yang notabene tergolong Negara maju dan adidaya itu dalam lilitan hutang yang telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomiannya. Satu persatu perusahaan-perusahaan raksasa negeri paman sam itu runtuh terjerembab dan terkapar. Kita masih ingat bagaimana WordlCom perusahaan telekomunikasi raksasa dengan klaim asset 107 miliar dolar (atau lebih dari Rp. 900 triliun) mengalami kebangkrutan, sebelum itu  kita ketahui Enron, Xerox juga mengalami hal yang sama dan belakangan terus berjatuhan perusahaan-perushaan raksasa Amerika seperti Boing dan yang lainnya.

Sistem Kapitalisme  (yang menurut Prof.DR. Ir. Rohimin Dahuri  telah cacat sejak lahir) terus menerus membungkus cacatnya dengan berbagai “baju kebijakan” yang seolah-olah begitu “ramah” dan “bijak” membantu Negara-negara miskin tapi hakikatnya menyengsarakan Negara-negara terkebelakang itu. Lihatlah Forum Kerjasama Ekonomi Asia Fasifik (APEC) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Kawasan Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) Kawasan Perdagangan Bebas Asia Tenggara (AFTA) semuanya seolah-olah diperuntukkan untuk menggalang kekuatan ekonomi baik regional maupun internasional untuk dapat berkompetisi. Negara-negara yang tak mau bergabung dalam forum-forum itu dikecam dan dikucilkan. Negara-negara berkembang dipaksa untuk melakukan liberalisasi perdagangan, mereka harus membebaskan biaya masuk hingga nol persen.Akibat kebijakan “sesat” itu telah menyengsarakan rakyat—lihatlah nasib petani Indonesia hari ini! Disemua supermarket, pasar tradisional dan pedagang pinggir jalan hari ini buah-buahan yang dijual adalah produk import sementara buah-buahan lokal yang menjadi andalan petani kita raib entah kemana—lihatlah para pengrajin textile kita mereka gulung tikar karena serbuan produk pakaian asing—lihatlah nasib para pedagang kita di pasar-pasar tradisional yang telah “digusur” oleh hypermarket dan supermarket asing yang menjamur dimana-mana.Jika kita urut daftar kesengsaraan rakyat ini semakin hari semakin panjang dan anehnya pemerintah menutup mata atas kesengsaraan ini semua dan dengan bangga “bertekuk-lutut” dihadapan kebijakan kapitalis.

Islam kekuatan Indonesia
Indonesia negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki kekuatan dan modal besar untuk tampil sebagai pemimpin Negara-negara Islam dalam perdagangan dunia  karena potensi yang sangat besar yang dimiliki Negara-negara Islam yang tergabung di dalam Organisasi Konfrensi Islam (OKI). Negara-negara Islam yang tergabung didalam OKI saat ini menguasai 68% cadangan minyak dunia dan 40% bahan baku dunia.Sebanyak 13 dari 18 negara pengekspor minyak terbesar di dunia adalah Negara-negara OKI demikian pula produk-produk non minyak lainnya Negara-negra OKI adalah Negara-negara yang memiliki potensi yang besar dan memiliki sumber daya alam yang melimpah.Disisi lain jumlah penduduk lebih dari 1,5 miliar Negara-negara OKI menjadi pangsa pasar besar bagi setiap produk dunia. Sungguh ironis potensi yang begitu besar dimiliki oleh Negara-negara OKI tapi kenyataannya mereka begitu tergantung  pada Negara-negara maju.Indonesia hari ini misalnya sangat tergantung kepada Negara-negara asing, nilai ekspor-impornya didominasi oleh asing.Jika Indonesia menyadari dominasi yang tidak sehat  ini maka seharusnya Indonesia memulai menggalang kekuatan dan kebersamaan dalam membangun kekuatan ekonomi dikalangan Negara-negara OKI. Islam menjadi modal dasar dalam menggalang kerjasama itu.Indonesia bersama-sama Negara OKI harus mampu menjelaskan kepada dunia bahwa Islam bukanlah hanya sekedar doktrin keagamaan semata tetapi Islam adalah jalan menuju pintu kemakmuran dan keselamatan dunia—Islam rahmatan lilalamin.
Diujung keruntuhan Komunis, dunia melihat bangkitnya kapitalis, namun kita sedang menyaksikan kejatuhan system kapitalis itu sudah diambang pintu dan system syariah sedang menggeliat menggantikan dua system ekonomi sebelumnya.Sitem syariah yang niriba itu bukan hanya bangkit di Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim tetapi system syariah telah menggeliat di berbagai belahan dunia. System syariah adalah ketentuan Tuhan pemilik semesta ini.Dia yang menciptakan  semesta raya dan isinya maka tentu petunjuk dari-Nya lah yang paling tepat untuk mengaturnya.Allah menurunkan kitab-Nya mulai dari Zabur, Taurat,Injil dan Al-quran semuanya untuk petunjuk bagi manusia dalam mengelola bumi dan isinya.Petunjuk-petunjuk kitab suci seringkali disalahpahami oleh umat manusia. Kitab suci hanya dianggap sekumpulan doktrin ritual untuk bagaimana pemeluknya beribadah kepada Tuhannya tak lebih dari pada itu, sehingga orang baru akan membuka kitab suci ketika dia ingin melakukan ritual ibadah.Padahal Tuhan menurunkan kitab suci adalah sebagai-Hudan linnas—petunjuk bagi semua manusia.Petunjuk disini bukanlah hanya petunjuk tatacara ibadah ansich, tetapi Tuhan menjelaskan bahwa kitab suci harus menjadi petunjuk yang holistic (kaffah).
Manusia kata Jalaludin Rumi bagaikan bilah-bilah seruling bambu, pada setiap seruling ditiup dia mengeluarkan suara kerinduan untuk kembali ke asalnya.Begitulah manusia dengan fitrah Tuhan pada dirinya (Faiza sawaituhu wanafakhtu minruuhi—apabila telah sempurna diciptakan manusia maka Aku tiupkan Ruh dari Sisi-Ku)  pada akhirnya dia rindu kembali kepada Tuhannya.Dalam mengelola perekonomian dunia pada akhirnya manusia rindu kembali kepada Tuhannya.Dalam beberapa tahun terakhir ini sytem syariah telah menjadi pilihan dalam menghadapi goncangan krisis ekonomi.Jika sytem kapitalis mengandalkan bunga maka syariah datang dengan menghapus bunga.Sitem perbankan dunia hari ini cenderung terus menerus menurunkan suku bunganya. Berdasarkan laporan bank dunia tahun 2010 suku bunga di Negara-negara maju trus mengalami penurunan.
Sebenarnya dunia sudah sejak lama menantikan ekonomi kesejahteraan (welfare economics) dimana hal ini sejak tahun 30-an jargón ini sudah di tiupkan, tapi hanya sebatas jargón saja yang pada prakteknya negara-negara maju kehilangan ruh untuk dapat mewujudkannya dalam tataran perekonomian global, dimana sistem kapitalis yang mereka kembangkan dianggap dapat mewujudkan kesejahteraan namun apa lacur yang hadir ditengah-tengah dunia adalah kemiskinan dan kesenjangan yang semakin menganga.Olehkarena itu semestinya dunia saat ini sadar bahwa pada akhirnya manusia itu memiliki keterbatasan dan Tuhan-lah yang memiliki kemutlakan dan dalam mengelola ekonomi manusia pada akhirnya bagaikan “bilah-bilah seruling bambu” mereka rindu kepada dimana mereka berasal (Allah SWT). Kembali kepada Tuhan adalah jalan menuju kesejahteraan umat manusia, karena Tuhanlah yang mutlak benar yang selama ini ditinggalkan manusia dalam mengelola ekonomi dimuka bumi. Wallahu’alam
(Samsudin Ketua Departemen Pengkajian Opini dan Kebijakan Publik  Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar