Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Rabu, 26 Oktober 2011

Pemain atau Korban.



Asalamu’alaikum Wr.wb.
Ikhwan, kader, pengurus Partai Bulan Bintang yang saya Hormati. Dalam dunia organisasi atau politik kita akan dihadapkan pada situasi dan kondisi yang selalu berhubungan dengan beragam kepentingan dan prilaku yang menyangkut diri kita ataupun orang lain, kadang terkandung makna dalam benak kita “pemain atau korban” istilah ini selalu muncul dalam berbagai lingkungan social, organisasi ataupun politik. Mari kita lihat ada kekuatan yang akan mendorong kita kea rah kesuksesan.
Kadang merasa diri sebagai bulan-bulanan situasi, korban situasi, kadang ia tidak bisa melihat orang lain sebagai support melainkan sebagai beban, “ mengapa harus saya selalu muncul dalam benak dan pikiran siapapun.
Bila individu kerap menyalahkan lingkunganya, peraturan dan kebrokbrokan  situasi yang ada, maka secara otomatis ia akan tumbuh menjadi orang yang mudah menggurutu, sekaligus melepaskan tanggungjawab dalam mengembangkan diri dan mengoreksi diri, midset sebagai korban ini mudah menular dari bisa menjadi penyakit dalam tim, atau organisasi, kalau mentalitas korban ini menyebar akan akan terdiri atas orang-orang yang merasa dirinya “innocent” dan tidak berdaya, lalu siapakah yang akan diandalkan untuk mengubah situasi ?
Responsibility = response-ability
Sekolot-kolotnya ayah saya, ia selalu mengingatkan bahwa manusia, hampir di semua situasi mempunyai pilihan, bahkan dalam situasi genting sekali pun. Akal budi membuat kita mampu berlatih untuk merespons apa yang kita hadapi sehingga tidak merasa bahwa semua situasi adalah nasib yang jatuh dari langit.
Bila kita berlatih, stimulus yang datang kepada kita diolah sebagai informasi yang perlu direspons dengan kemauan kita sendiri. Dengan demikian kita tidak lagi merasa sekadar obyek atau victim, namun menjadi subyek atau sutradara untuk mengendalikan situasi. Hal inilah yang juga diajarkan pada pemain-pemain bola atau dalam latihan bela diri. Kita tidak asal bereaksi, tetapi kita memilih gerakan berdasarkan informasi tertentu.
Sikap mental ini tidak selalu harus dimiliki oleh individu dengan posisi tinggi ataupun jenderal jenderal besar seperti McArthur atau LB Moerdani. Kita pun sebagai “wong cilik”, yang masih belum mempunyai jabatan bisa mempunyai “player mentality”, mengambil peran dan tanggung jawab penuh atas situasi yang terjadi. Di dalam pekerjaan, bila informasi yang dimiliki tidak cukup, bisa saja kita menyalahkan pihak yang memberi data tidak lengkap, namun kita pun sebetulnya bisa mengembangkan sikap bertanggung jawab dan proaktif untuk mencari informasi lebih banyak. Seorang pemelihara tanaman di kantor pun bisa mengambil inisiatif, misalnya sepenuh hati memberi pupuk, membuat larangan dan peraturan agar tanaman yang dirawatnya tidak rusak dan bisa tumbuh subur. Kenapa kita tidak bisa?
Bergerak mengejar sasaran
Latihan untuk menganggap bahwa apapun yang terjadi di hadapan kita adalah "informasi", akan membuat kita terbiasa untuk memikirkan langkah apa yang kita ambil. Seorang “korban” dengan mudah menyalahkan situasi, sementara “pemain” selalu mampu memahami situasi. Seorang pemain sepak bola andal pun selalu paham tentang situasi yang dihadapinya dan mampu mengarahkan tendangannya sambil sekaligus meramalkan ke mana bola itu akan pergi. Jadi ia bukan berespons secara impulsif. Meski respons ini terjadi dalam hitungan detik, tetapi individu bermentalitas pemain sudah mempunyai kontrol terhadap situasi.
Di situasi kerja kita pun perlu mempertanyakan, apakah kita hanya mengikuti perintah atau berusaha mempersiapkan, berpartisipasi, dan mengkontrol situasi? Apakah kita mengambil peran pasif atau aktif? Apakah kita membuat keputusan karena terdesak ataukah kita membuat keputusan dalam keadaan sadar dan jernih? Individu dengan mentalitas pemain biasanya tidak sulit untuk bergerak dan mengarahkan diri ke masa depan dan “make things happen”. “They don’t sit around waiting for answers to appear; they stand up, put one foot in front of the other, and find the answers”.  
Pelecehan psikologis, seperti menyebut diri “kacung kampret”, sebetulnya lebih sering dilakukan oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Kitalah yang perlu menyuburkan penghargaan diri, rasa percaya diri untuk maju dan mengembangkan karier. Dengan demikian, kita menumbuhkan, karakter diri yang kuat dan bisa bangga karena nyata-nyata memberikan kontribusi optimal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar