Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Jumat, 21 Oktober 2011

Jihad Melawan Korupsi: Habib Rizieq dan Abdullah Hehamahua




alt
Aru Syeif Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam


Makna jihad hari-hari ini sangat negatif, bersamaan pengumuman Polri dalam kasus peledakan diri pelaku di Gereja Bethel Injil Sepenuh Solo Jawa Tengah, Minggu (25/9). Polri menyimpulkan dan menamakan peledakan diri ini sebagai Bom Jihad. Pelakunya Ahmad Yosepa Hayat, alias Ahmad Urip  tewas di tempat kejadian, sementara 24 korban hanya luka-luka ringan dibawa ke rumah sakit dan segera diijinkan pulang. Betulkah predikat Bom Jihad yang diberikan Polri ini ?

Memang istilah Jihad dalam ajaran Islam bisa diartikan beragam. Dalam arti yang lazim dipahami, jihad diyakini sebagai perang dalam tindakan yang sebenarnya yakni menyandang senjata dan maju ke medan perang. Namun makna yang lain bisa sangat sederhana yakni menahan hawa nafsu pun bisa diartikan sebagai perbuatan jihad. Bahkan menentang kebathilan hanya di dalam hati saja yang disebut sebagai selemah-lemahnya iman itu, bisa dikatagorikan sebagai jihad.

Adalah Habieb Rizieq Shihab, tokoh dengan jatidiri garis keras menentang kebathilan ini, niscaya saja figurnya dilekatkan dengan jihad. Tatkala Habib mendeklarasikan LAKI (Laskar Anti Korupsi) Pejuang, bersama Permadi di kantor KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada 22 September lalu, komentar santer segera menyimpulkan kini Habib memperluas basis gerakannya mulai memperjuangkan dan berjihad melawan korupsi. Habib tidak menolak anggapan itu, dia kini memang sedang menggerakkan jajaran komando FPI (Front Pembela Islam) di seluruh wilayah di Indonesia untuk berjihad melawan korupsi. Dalam orasi yang berkobar dalam acara pelantikan lebih 100 orang komandan LPI (Lasykar Pembela Islam) Se-Jabodetabek di Islamic Centre Masjid Raya Bogor, 24/9, Habib Rizieq dengan lantang menetapkan perjuangan baru FPI dan LPI adalah memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Kepada Suara Islam Habib  menyampaikan dalih yang menggelitik nuraninya bahwa kegiatan korupsi telah sedemikian rupa menghancurkan seluruh sendi-sendi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan FPI yang telah digencarkan sepanjang 13 tahun terakhir, ia rasakan bagai berdiri di tempat  tanpa kemajuan berarti. Berpuluh-puluh lokasi maksiat bahkan ratusan berhasil diberantas FPI bersama aparat Polri, namun dalam waktu singkat lokasi pelacuran, perjudian dan rumah minum itu berdiri kembali. Bagai sia-sia saja perjuangan FPI selama ini. Dan Habib Rizieq menyadari kesia-siaan itu terjadi karena aparat keamanan yang terkait dengan perijinan telah disogok sehingga tempat maksiyat itu dengan mudah berdiri kembali. Korupsi telah menjadi sebab mendasar kegagalan perjuangan FPI dan bahkan telah menghancurkan segalanya di negeri ini.

Penulis amat mengenal dekat Figur Muhammad Habib Rizieq Shihab. Salah satu karakter Habib yang paling menonjol sebenarnya justru jiwa dan nuraninya yang amat lembut dan penuh kasih-sayang kepada sesama umat Islam. Sikap penuh kasih sayang ini mencuat setiap kali Habib bertemu dan menyambangi puluhan bahkan ratusan ribu jamaahnya yang tersebar di se antero wilayah negeri ini,  dari ujung timur negeri ini hingga Aceh. Usai tabligh dan taushiah yang disampaikannya hingga larut malam itu, Habib sabar menyalami jamaahnya satu persatu. Anak-anak kecil yang ikut pengajian hingga larut malam itu ia usap-usap kepalanya, bahkan dicium jidatnya. Pertanyaan-pertanyaan lugu jamaahnya yang tinggal di pucuk-pucuk gunung dan pedesaan itu dilayani dengan sabar. Inilah ciri khas Habib Rizieq yang tak pernah dimengerti golongan sekuler dan anti Islam. Citra menyesatkan justru dikabarkan oleh kalangan elit sekuler dan disebarluaskan pers nasional, bahwa Habib Rizieq tokoh radikal, selalu mengandalkan otot dan adu jotos alias gemar tindak kekerasan. Ditambah lagi julukan-julukan Preman Berjubah, Kepala (atau boss) Gang Mafia berkedok agama, yang setiap kali menerima setoran duit dari tempat perjudian dan nigh club. Citra hitam seperti itulah yang melekat di benak Amran Nasution, mantan Redaktur Pelaksana Tempo yang kini bergabung di jajaran redaksi Suara Islam. Citra kelam itu terhapus seketika ketika suatu hari ia diajak Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif mengunjungi kediaman Habib Rizieq. Semula ia terbayang akan menemukan singgasana “boss mafia” itu rumah megah dengan penjagaan pengawal yang garang dan ketat. Tapi bayangan itu lenyap seketika ketika mobil Dinas Wakil Ketua DPR yang ditumpangi tak bisa maju lagi dan harus berhenti di ujung gang kecil di Jalan Jati Petamburan III. Rumah Habib yang kumuh ia temukan di lorong sempit itu. Amran mungkin akan ‘pangling’ kalau berkunjung ke rumah Habib yang kini sudah dibangun cukup permanen, tiga lantai. Rumah cukup layak ini ternyata dibangunkan seorang simpatisan selama Habib “mondok” di Penjara Polda Metrojaya, dalam kasus Kekerasan AKKBP, Monas Juni 2008. Kini Habib mengangsur kepada simpatisan yang membangunkan rumah tinggalnya itu. Entah sampai kapan lunas.

Sikap menonjol lain Habib Rizieq niscaya amat keras, tanpa kompromi begitu berhadapan dengan pribadi yang terang-terangan menentang Islam atau pro kepada kemungkaran dan melawan Al Islam. Itulah sikapnya yang keras kepada pendukung ajaran-ajaran sesat seperti Ahmadiyah, Islam Jamaah dan lain-lain. Sebaliknya kepada tokoh-tokoh Islam apapun aliran dan madzabnya ia selalu berusnudzon alias berbaik sangka dan selalu menebarkan kasih sayang. Begitu halnya kepada sejumlah pejabat tinggi yang Muslim dan menunjukkan komitmennya kepada kebenaran dan kejujuran, Habib selalu mengirim spirit dan dorongan agar sang pejabat istiqamah. Itulah yang dia lakukan kepada sejumlah pejabat tinggi Polri, TNI, dan belakangan kepada petinggi KPK. Inilah yang dilakukan ketika Habib sudah memutuskan berjuang bersama-sama LAKI Pejuang, maka acara deklarasi di Gedung KPK itu sebelumnya sudah mengontak Ketua KPK Busro Muqoddas. Habib amat menghargai komitmen Keislaman Ketua KPK, juga Ketua  Komite Etik dan Penasihat KPK Abdullah Hehamahua. Nama yang terakhir Abdullah Hehamahua dikenal sebagai tokoh “super’ jujur yang kemana-mana tak mau disuguhi minuman kendati sekadar air putih. Dullah ke mana pun pergi selalu berbekal air putih di tas kerjanya. Orang yang tak suka kepada sikap jujur Abdullah yang berlebihan itu menyebut naïf. Ketika kini ia menjadi calon terkuat Ketua KPK, yang tak senang menyebut Abdullah memang bersih, jujur tapi ia dianggap tidak mempunyai kemampuan manajemen memimpin KPK.

Kejujuran Harus Jadi Panglima


Dalam berbagai laporan tabloid ini berulangkali dilontarkan pesimisme pemberantasan korupsi di Indonesia termasuk yang digencarkan melalui KPK. Pemberantasan korupsi bagaimanapun garangnya tak pernah akan menghapus korupsi di Indonesia sepanjang sistem politik ekonomi dan pemerintahan yang dianut tetap Kapitalistik dan Liberalistik yang justru menjadi sumber korupsi yang sistemik. Bagaimana masa depan KPK ? menurut hemat penulis, KPK akan menjadi berguna jika sistem politik sudah diubah total dan KPK dalam sistem yang baru itulah berperanan. Dan KPK dalam sistem politik yang baru itu harus menjadikan Kejujuran sebagai Panglima. Bicara kejujuran, harus diakui dengan jujur tak pelak Abdullah Hehamahua, pribadi yang pantas dan masih menyandang pangkat---kejujuran---itu dengan setia. Penulis seperti halnya kepada Habib Rizieq, sangat mengenal pribadi Abdullah Hehamahua. Pertamakali kenal dengan Dullah (begitu ia akrab disapa) pada 1980, saat ia masih menjabat Ketua Umum PB HMI. Sekali tempo ia tampil berorasi di halaman kantor HMI Cabang Jakarta di Jalan Cilosari Cikini Jakarta Pusat. Dengan polos dan amat berani Dullah mengkritisi sistem politik Orde Baru yang kala itu amat dominan dan represif. Padahal saat berorasi itu, hadir pula Komandan Garnizun Brigadir Jendral Eddy Marzuki Nalapraja yang ikut merah-padam raut mukanya mendengar Pemuda Hehamahua yang garang itu. Eddie kepada penulis berbisik,”Orang ini kayaknya jujur,”.

Pasca Peristiwa Tanjung Priok yang berdarah akhir 1984 Dullah merasa diincar aparat keamanan dan dijadikan target, Dullah pun “hijrah” ke Malaysia. Secara bertahap keluarga, istri dan anak-anak Dullah pun menyusul dan hidup di Negeri Jiran. Penderitaan hidup sebagai pelarian niscaya hanya mengukuhkan jatidiri Dullah yang makin mantap menjalani hidup dengan gaya asketis atau zuhud dalam bahasa agama. Penulis, tiap kali berkunjung ke Kualalumpur selalu dijemput Dullah. Mendatangi rumahnya di pinggiran KL, sungguh membuat ‘trenyuh’. Rumahnya benar-benar bersahaja, lantai rumahnya tidak diplester alias tanah lembab yang telanjang. Saat kami bertamu dibentangkanlah tikar dan terasa dingin diduduki. Ngobrol pun menjadi marak, hingga lewat tengah malam. Jauh sebelum waktu Subuh Dullah pamit sebentar mengantarkan anak-anaknya pergi ke sekolah dengan naik motor butut. Mereka di antar ke sebuah stasiun kereta api. Biasanya sesampai stasiun itu Dullah bersama anak-anaknya baru bisa shalat Subuh. Usai shalat, datanglah kereta api, anak-anak pun dilepas naik kereta api menuju tengah kota.

Menjenjelang jatuhnya rezim Soeharto, Dullah kembali ke Tanah air. Penulis sempat menjemput dan mengantarkan Dullah ke rumah mertuanya di kawasan Depok Timur dan kehujanan basah kuyup di tengah jalan  Pada saat itu penulis mengatakan : “Dul, akhirilah masa-masa kontemplasi di Negeri Jiran itu. Sudah cukup lama peranan Anda ditunggu-tunggu negeri ini. Buktikan pidato-pidato Anda yang menggelora sebagai Ketua Umum PB HMI itu. Di Negeri Jiran Anda tidak dibutuhkan dan tidak dikenal siapapun.” Syukur, sekitar dua tahun kemudian ia benar-benar pulang ke tanah air ikut terlibat dalam kancah politik dengan mendirikan Partai Politik Masyumi yang dihajatkan sebagai penerus cita-cita Masyumi. Dullah memang sangat mengagumi tokoh-tokoh Masyumi. Pada 1981 Dullah bersama penulis aktif dalam kelompok diskusi yang diprakarsai Mr. Moh. Roem  dan dinamakan KNB (Klub Nasi Bungkus), karena pesertanya diwajibkan membayar Rp 250, harga nasi bungkus saat itu yang akan disantap peserta sendiri. Ikut aktif dalam KNB jajaran aktifis muda : Jimly Asshidiqie, Natsir Zaubaidi, Yunani Aloetsyah, Kurniawan, Badruzaman Busyairi, Zainal Abidin Urra dll, sementara kalangan  tokoh Masyumi selain Mr. Roem acapkali hadir antara lain : Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. Boerhanuddin Harahap, Anwar Haryono SH, HM. Yunan Nasution, dan M. Natsir. Dari forum seperti inilah kiranya yang telah menggembleng seorang Abdullah Hehamahua, hidup sederhana, jujur dan bersih. Teladan gaya hidup orang Masyumi melekat di relung nurani Abdullah Hehamahua.

KPK di tangan Abdullah Hehamahua dengan sistem politik yang telah diubah total tidak lagi menjadi alat eksploitasi dan kepentingan Barat niscaya KPK bisa diharapkan punya peranan yang telak memberantas korupsi yang sebenarnya di Indonesia. Dullah tinggal membutuhkan sikap atau watak satu lagi merasuk di tubuhnya yakni : Berani. Sikap tegas dan pemberani ini niscaya akan muncul jika peranan KPK terus dikawal Habib Rizieq Shihab yang memang telah berjanji  akan terus mengawalnya. Wallauhualambissawab!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar