Markas : Jl. Peta No. 49 Tlp/Fax 022-5224189 Bandung.40243 /dpwpbbjabar@gmail.com

Selasa, 11 Oktober 2011

Isu Terorrisme - Radikalisme Penjajah Barat, Palsu!



Barat telah menghadapi ancaman kebangkrutan ideologi yang nyata akibat rusaknya nilai dan aturan yang mereka adopsi. Kemerosotan moral dan kerusakan tatanan sosial masyarakat Barat melahirkan jutaan aborsi setiap tahunnya. Paham feminisme mendorong wanita mengejar karir sedangkan pasangan umur produktif enggan memiliki anak. Sementara itu, pergaulan bebas dan pornografi tidak hanya menyuburkan perzinaan tetapi juga maraknya kawin sesama jenis yang tentu saja tidak mungkin menyebabkan kelahiran.

Akibatnya, secara alami pertumbuhan penduduk Barat sangat minim dengan angka kelahiran di bawah ambang batas minimum bertahannya sebuah peradaban. Ke depan mayoritas penduduk negara-negara Barat adalah kaum jompo dengan jumlah umur produktif yang minim. Umur produktif yang minim juga berarti semakin minimnya pemuda yang dapat direkrut menjadi tentara dan polisi. Artinya ke depan kekuatan personil militer dan pertahanan Barat akan semakin berkurang.

Di samping itu, Barat juga menghadapi kehancuran ekonomi dengan krisis keuangan yang datang silih berganti. Krisis mengakibatkan semakin bengkaknya angka pengangguran dan kemiskinan di Barat. Kondisi ini menjadi faktor pendorong meningkatnya kriminalitas dan kejahatan. Masalah yang tidak kalah penting lainnya adalah semakin banyaknya pengangguran dan kemiskinan menciptakan bom waktu ketidakpuasan terhadap sistem dan pemerintahan negara-negara Barat. Ini menjadi pemicu kerusuhan dan krisis sosial-politik.

Perang Melawan Terorisme
War on terrorism (WOT) atau perang terhadap terorisme yang secara masif dicanangkan oleh Amerika sejak serangan WTC 11 September 2001 adalah sebuah dalih untuk mengongkosi kebangkrutan ekonomi Amerika.

Melalui WOT Presiden AS George W Bush mengalihkan keresahan rakyat AS dari himpitan ekonomi dengan mengetuk semangat patriotisme/heroik rakyatnya. Dengan cara ini juga Bush memberikan kesempatan kepada para korporat pendukungnya dalam pemilu untuk meraih keuntungan finansial dari kontrak minyak, logistik perang, industri senjata, dan proyek rekonstruksi Irak. Tragis untuk mencapai hal ini Amerika Serikat mengobarkan perang dan membunuh jutaan rakyat Irak dan Afghanistan.

Di samping motif ekonomi, faktor fundamental yang melahirkan WOT adalah perang ideologi. Di tengah kebangkrutan ideologi Kapitalisme, kebangkitan Islam semakin nampak. Semakin banyak kaum Muslim yang menghendaki diterapkannya syariah Islam dan persatuan umat dalam sistem Khilafah. Semakin intens penentangan dan pembongkaran atas makar dan penjajahan Barat di dunia Islam. Tidak aneh jika Presiden Bush pun mengatakan perang terhadap terorisme adalah lanjutan dari perang salib (the crusade).

Hal ini semakin mengancam ideologi Kapitalisme dan eksistensi penjajahan Barat sedangkan penjajahan adalah metode Barat untuk mempertahankan ideologi dan kemakmuran negaranya. Barat menciptakan WOT yang sesungguhnya tidak didesain untuk memerangi teroris melainkan memerangi ulama dan kelompok yang membangkitkan kesadaran Islam di tengah umat untuk tegaknya syariah. Sebaliknya Barat menciptakan kelompok-kelompok teroris dan merekayasa berbagai serangan teror.

Ciptakan Propaganda dan Opini
Barat menciptakan propaganda dan opini terorisme untuk membenarkan tindakan mereka, sebagaimana dalih AS dalam invasi Irak untuk mencegah jatuhnya senjata pemusnah massal ke tangan teroris yang hingga sekarang tidak pernah terbukti. Presiden Bush menempatkan negara-negara di dunia pada 2 pilihan, apakah ikut bersama AS memerangi terorisme ataukah bersama teroris.

Meski pemimpin negara-negara Barat telah berganti, WOT tidak pernah berhenti. Barat secara kuat dan terus-menerus memobilisasi terciptanya opini terorisme sebagai musuh dunia, memaksa banyak negara melahirkan perangkat hukum dan organ negara yang secara khusus menindak terorisme.

Barat akan selalu mengkaitkan dan menjadikan radikalisme sebagai sumber terorisme dengan ciri utama:
1) umat Islam yang berpegang teguh pada al-Qur’an,
2) umat Islam yang berupaya mendakwahkan syariah Islam sebagai solusi dan aturan yang harus ditegakkan,
3) umat Islam yang ingin bersatu dalam sistem yang diwariskan Nabi SAW yakni Khilafah.

Meski tidak ada kaitan sama sekali dengan terorisme karena ditempuh dengan cara damai dan intelektual, Barat pasti mempropagandakan opini bahwa umat yang melakukan tiga langkah tersebut sebagai teroris dan musuh dunia.

Sesungguhnya sistem khilafah merupakan bagian dari syariat Islam. Tanpa sistem ini syariah tidak dapat diterapkan. Dan tanpa syariah umat Islam tidak akan menjadi umat yang terbaik. Tanpa syariah kita tidak akan pernah dapat menuntaskan kriminalitas, korupsi, kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan. Tanpa syariah setiap waktu kita dihina, difitnah, dan dianiaya oleh Barat tanpa adanya pembelaan dan perlindungan dari penguasa negeri Islam.

Syariah Islam, Ancaman!
Namun Syariah adalah ancaman bagi eksistensi penjajahan Barat atas dunia termasuk penjajahan mereka terhadap negeri kita Indonesia. Hal ini dengan jelas diungkapkan Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke pada 6 Oktober 2005,
“Tidak akan ada negosiasi mengenai pembentukan Khilafah; tidak akan ada negosiasi mengenai kewajiban menerapkan hukum syariah”
(www.heritage.org, 21/10/2005).

Sementara itu, dalam laporan terbaru yang berjudul Sharia a Danger to US, Security Pros Say, sebuah panel ahli keamanan nasional Amerika Serikat memberikan rekomendasi radikal kepada pemerintahan Obama bahwa syariah Islam adalah ancaman bagi negara tersebut. Panel ini juga menyampaikan sangat pentingnya keamanan AS dan peradaban Barat untuk mendukung tokoh dan kelompok Islam moderat (www.washingtontimes.com, 14/9/2010). Islam moderat adalah istilah yang digunakan Barat terhadap kelompok dan intelektual yang anti terhadap agamanya sendiri, anti al-qur’an, syariah dan khilafah. Istilah lainnya adalah Islam liberal.

visit page on:
Arrahmah.com

Wallahu a'lam bish shawab.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar